Friday, February 24, 2012

A Matter of Standard

picturetakenfrom:web.stagram.com

Good things happen at the moment you least expecting it.
Like today, how could I get A- at the test I least capable of? Saya pikir saya bakal dapet C atau D. Setengah mati rasanya mau dapat nilai B atau B+ di fakultas kedokteran, dan sekarang A-? Di ujian yang paling saya nggak bisa pula? I don’t really understand how things are working right now. Di ujian yang saya merasa bisa aja, saya hanya dapat C+. It is not in my logic. Perhaps, my friend look at the wrong student number? Haha… Saya bukan tipe orang yang gampang percaya, jadi saya belum benar-benar yakin kalau belum melihat sendiri hari Senin nanti. Well, I guess my friends would hate me cause I told them I can’t do the test, and I got a good score. This is why I’d rather answer ‘I don’t know’, when someone ask me if I can do a test or not.

Kejadian ini ngingetin saya sama masa sekolah. Rasanya kurang lebih sama, saya sering kesal sama orang yang kalau ditanya setelah ulangan bilangnya nggak bisa, tapi begitu keluar nilainya bagus. Ironisnya, saya juga sering jadi orang tersebut. Sebenarnya nggak ada maksud munafik sih, saya percaya kok sama teman-teman saya yang bilang ‘nggak bisa’ itu nggak ada maksud ingin membanggakan diri. Cause I’ve been in the same shoes. Setelah dipikir-pikir lagi, rasanya hal itu terjadi karena ukuran seseorang terhadap ‘bisa-nggak bisa’nya dia dalam mengerjakan ulangan tuh berbeda-beda. Misalnya, kalau saya nggak bisa tiga dari sepuluh soal udah panik setengah mati, teman saya masih adem ayem. Makanya kalau ditanya, saya akan menjawab ‘nggak bisa’. Masalahnya cuma beda di standar.

Sama halnya dengan menghadapi masalah. Seberapa besar masalah yang kita hadapi benar-benar tergantung dari cara kita menilainya. Bisa saja masalah saya bagi Si A nggak ada apa-apanya dibanding masalah dia, atau menurut Si B masalah saya terlalu berat. But the problems are meant to ourself, not others. Buat saya setiap masalah itu udah spesifik buat seseorang, nggak terlalu ringan, dan nggak akan terlalu berat, melainkan cukup untuk membentuk orang tersebut menjadi lebih baik. Hal ini sebenarnya yang sering saya pikirkan ketika saya melihat hidup orang lain ‘lebih berat’ dari saya, mungkin masalah dia yang kelihatan banyak banget itu sama efeknya dengan masalah milik saya. Begitu juga sebaliknya, kalau saya melihat teman saya yang ‘kok ada masalah gitu aja udah ngeluh’, mungkin masalah kecil dia, sama beratnya bagi dia dengan masalah saya. Pada intinya, bukan jumlah mangkuk mie yang sama yang membuat dua orang sama kenyang, melainkan jumlah mangkuk mie berdasar kebutuhan masing-masinglah yang membuat dua orang sama kenyang.


Errr, setelah di baca ulang, postingan ini rada nggak nyambung ya awal dan akhirnya... Tapi, ya sudahlah ya...

No comments:

Post a Comment