Wednesday, April 25, 2012

Conquer Me


Conquer me, Mr. Right
Let my heart be yours
No need to be stronger
I could hire a bodyguard when I want one
No need to be smarter
That what scientists are for
No need to be wealthier
I’d rather marry a millionaire
No, put aside all of that crap
What I want is much more than that

Conquer me, Mr. Right
Make me kneel with all your might
Let me see the best of you
The you that stand still in the worst
That correct me when I wrong
That make me smile when I almost forgot how to
That hold my hand in the storm, say that we are just fine
And teach me how to dance through it
The you that make my little world freeze
And make me a princess for a little while

Conquer me, Mr. Right
Prove me I need you
Show me that double are better
For love is about sharing, caring, and listening
To understand and lift each other
To have someone to laugh, cry, and grow old with
And be the exact pair of lock and key
Conquer me, Mr. Right
Make me full of you

picturetakenfrom:pinterest.com

I am so not poetic, but this thing is just popped-up and won't go away until I wrote it :D

Saturday, April 21, 2012

Waktuku bukan WaktuMu

picturetakenfrom:pinterest.com
Aku lelah. Membujuk waktu. Sedang yang ia lakukan hanya bercanda.

Tuhan, waktumu tampak tak masuk akal bagiku
Tapi memang selalu seperti itu kan?

Thursday, April 19, 2012

A Happy Letter


Lagi seneng banget nih, sharing dikit yah… Jadi gini ceritanya, tadi siang saya baru aja dapat surat dari Gramedia. Surat itu isinya tentang konfirmasi naskah novel saya yang sudah sampai ke penerbit.

Yep. Melihat nama saya ada di deretan rak di toko buku nasional adalah mimpi saya dari dulu. Dan baru sekarang saya punya nyali untuk mencobanya. Awalnya saya takut banget, bukan takut memulainya (karena saya menulis memang karena saya suka, bukan untuk dijual), tapi saya takut mengirimkan naskah saya ke penerbit. Saya takut ditolak, gimana kalau naskah yang sudah capek-capek saya buat akhirnya dikirim balik ke rumah saya oleh penerbit dengan alasan belum layak? Saya takut dianggap gagal. Saya takut karya saya dianggap jelek.

Tapi entah kenapa, saat memikirkan hal itu, sebuah dialog dari film Facing The Giants tiba-tiba terlintas di benak saya. Di film itu ada adegan di mana seorang remaja bernama David sedang berbincang dengan ayahnya. Ia ingin masuk ke tim football namun takut tidak diterima karena tubuhnya kecil dan ia hanya pandai menendang bola soccer. Dalam percakapan itu David bertanya bagaimana kalau ia tidak masuk dalam tim? Jawaban ayahnya sungguh menarik, dan entah bagaimana selalu saya ingat: “Well, you’re already not on the team. You can’t get anymore not on the team than now

Saya beruntung baru saja menontonnya untuk yang kedua kali beberapa waktu lalu saat kebersamaan pengurus, hingga percakapan itu masih cukup ‘nyantol’. Mengingatnya membuat saya tertegun. Bukankah saya juga sedang berada dalam posisi yang sama seperti David? Saya yang sekarang, toh bukan seorang penulis, kalau pun naskah saya ditolak, saya akan tetap menjadi saya yang sekarang. Hal inilah yang memompa semangat saya untuk akhirnya mencetak naskah saya. Melihat bentuk fisik naskah tersebut yang sudah dijilid rapi dan siap dikirim ke penerbit, sedikit banyak membuat saya excited. Dan tadi siang, setelah seminggu lamanya mempertanyakan nasib naskah saya, akhirnya pihak Gramedia mengabari saya kalau naskah itu sudah sampai dengan selamat. Yeay! Now I am one step closer to my dream!

Penantian memang masih panjang, saya masih harus menunggu 3 bulan lagi untuk mendapat keputusan apakah naskah saya layak terbit atau tidak. Tentu saja saya berharap banyak. Tapi, saya juga siap kok untuk kemungkinan terburuk, yang berarti saya harus kembali merevisi naskah saya dan mengirimnya ke penerbit lain. At least, I’ve tried, and I’ll know what I am capable of  J

Well, wish me lot of luck!

Tuesday, April 17, 2012

I Do


Aku memandang keluar melalui jendela mobil yang baru saja berhenti.

“Mau aku temani?” Suara rendahnya memecah lamunanku.

Aku menggeleng,”Tunggu di sini saja, biar aku turun sendiri”.

Ia tersenyum maklum, lalu membiarkanku keluar dari VW Golf miliknya. Aku menutup pintu dan mulai menyusuri jalan setapak yang membelah tanah berumput.

Sesekali aku menoleh ke belakang dan mendapati ia masih melihatku, memperhatikanku dari jauh. Seharusnya aku senang. Dengan kegagahan dan kemapanannya, ia adalah pria yang diimpikan semua wanita. Tapi, aku memang selalu menjadi anomali. Menerima kebaikannya malah membuat hatiku teriris. Kenapa? Kenapa masih menyanyangiku di saat aku tidak bisa membalasmu?

Lima menit kemudian aku sampai pada tempat tujuanku. Sebuah makam yang nampak bersih dan terawat. Aku memejamkan mata sejenak, merasakan angin sepoi yang berhembus dan membiarkan hangatnya mentari menyapa kulitku. Aku merasa damai di sini.

“Adras…” bisikku lirih, aku meletakkan buket bunga lili yang baru ku beli dalam perjalanan kemari,”Selamat ulang tahun”.

“Ini hari ke-250 yang aku habiskan tanpa dirimu, dan aku bersyukur masih bisa melewatinya dengan tegar. Itu kan yang kamu mau?” Tanpa sadar aku memutar cincin di jari manisku, hingga ketiga berliannya berada tepat di tengah. “Aku tidak tahu apa tawaranmu itu masih berlaku, kamu bahkan tidak pernah mengatakannya langsung padaku… Tapi, ini jawabanku Tuan Italia, Il mio cuore รจ per voi, I do, I always do. Sampai jumpa di lain kesempatan, dan pastikan kamu memintaku dengan jelas saat itu”.

Saat berbalik, aku mendapati ia sudah ada di sana. Sorot matanya sendu, ia terluka, aku tahu itu.

“Maaf,” ujarku,”Kamu tidak harus mendengarnya”.

Ia menghela napas berat,”Hidup sungguh tidak adil. Bagaimana caranya aku bisa bersaing dengan orang yang sudah tidak ada?”

“Aku mencintainya,” aku berkata tegas, mungkin kamu sudah bosan mendengarnya.

“Aku tahu, dan ia pun begitu. Kalau tidak, bagaimana mungkin cincin itu melingkar di jarimu kan?” Di luar dugaan ia malah tersenyum lembut,”Tapi, aku juga mencintaimu Ariana.”

Aku hanya menatapnya pasrah. Ia sungguh keras kepala.

“Sudah jam satu siang, dan aku yakin ia ingin kamu makan sekarang,” ia menarik tanganku lembut,”Kamu tidak keberatan kan kalau hari ini kita absen makan makanan Italia? Aku lagi pengen makan masakan Padang nih”.

Aku tersenyum lalu mengangguk,”Kamu tidak perlu menjadi dirinya”.

*



Baca juga:

1. Per Te, Ariana (by @RuriOnline)

Tuesday, April 10, 2012

The Proposal #Trattoria


Hari ini aku berada di sini, di sebuah sudut di Trattoria.

Bukan. Bukan untuk menikmati wajah the notorious of Soriano’s, Roberto, meski harus ku akui ia memang sangat atraktif.

Bukan juga demi seporsi lasagna ala Roberto yang terkenal itu, seperti yang sedang disantap oleh gadis bertubuh kurus di dekat jendela.

Bukan juga demi secangkir kopi, walau sekarang segelas Bicerin terhidang di hadapanku. Aku tidak kemari untuk hal-hal itu.

Satu-satunya yang membuatku berada di sini adalah kamu.

Aku menatap sebait soneta yang berada di samping konter. Sama seperti Roberto yang mengagumi Petrarca, kamu pun begitu. Bedanya, kamu tergila-gila pada segala hal yang berkenaan dengan Italia. Mulai dari kuliner, musik, arsitektur, sampai romansanya.

Aku masih ingat ocehan panjang lebarmu tentang betapa menakjubkannya Colloseum dan sejarah kerajaan roma, atau tentang ajaibnya menara Pisa yang bagiku hanya seonggok bangunan yang nyaris roboh. Kamu selalu seperti itu, menyanjung apa pun yang berkaitan dengan Italia, sampai membuatku cemburu. Sebenarnya mana yang lebih kau cintai, aku atau Italiamu itu?

Aku tersenyum miris, pertanyaan terakhir itu tidak akan pernah kuucapkan. Bukan karena aku sudah tahu jawabannya, tapi karena kamu tidak akan pernah mendengar lagi.

Tenggorokanku tercekat saat mataku menangkap perdebatan antara Roberto dan seorang perempuan di balik bar—Renata, kalau aku tidak salah dengar. Aku teringat kita. Tentang betapa kesalnya aku ketika kamu terlalu larut dalam duniamu, dalam obsesimu mempelajari seni lukis di Italia. Aku merindukan pertengkaran-pertengkaran kecil kita yang selalu berujung permintaan maaf atau kejutan manis darimu.

“Hei,” saat aku sadar, Roberto sudah berada di sebelahku. Kulihat wanita yang tadi berbicara dengannya berjalan keluar dengan langkah lebar-lebar.

“Aku turut berduka,” ia duduk di hadapanku.

“Kejadiannya terlalu tiba-tiba,” suaraku bergetar,”Kemarin aku masih tertawa dengannya, dan hari ini…” Aku tidak sanggup melanjutkan,”Aku belum siap”.

“Tidak ada yang siap, Ariana,” Roberto mengusap tanganku lembut,”Kita semua kehilangan Adras”.

“Tapi, ini…” Roberto mendorong Cassata yang sejak tadi diletakkannya di atas meja ke arahku. Aku menatapnya nanar, itu adalah kue favoritku dan Adras. “Adras memintaku membuatkannya untukmu. Ia berencana mengajakmu makan malam di sini hari ini.” Roberto tersenyum lembut,” Cicipilah, aku yakin kau pasti suka”.

Aku memotong kue itu dengan enggan. Kue itu tidak lagi terlihat menggiurkan seperti ketika aku menyantapnya dengan Adras. Namun, napasku tertahan ketika garpuku menyentuh sesuatu yang keras di dalam kue. Aku melihatnya dengan lebih saksama. Sebuah cincin.

Aku bergegas mengeluarkannya. Cincin itu sederhana, namun di bagian dalamnya terukir namaku dan Adras. Dan yang membuat air mataku tidak dapat berhenti mengalir adalah, sebaris kalimat pada secarik kertas yang diikat pada cincin tersebut: Ariana Tirtacakra, maukah kamu menikah denganku?

Saturday, April 7, 2012

Until He Burnt His Last


Picturetakenfrom:tumblr.com

Aku menatap puing di hadapanku dengan pandangan kosong. Mataku serasa terbakar, namun tak ada lagi yang dapat mengalir dari sana. Tenggorokanku tercekat, hidungku gatal oleh sisa-sisa abu yang beterbangan.

Hitam. Hangus. Tidak ada yang tersisa dari gereja yang dulu berdiri megah itu.

Aku berjalan menuju tengah, aku yakin tempat yang kuinjak sekarang dulunya adalah ruang kebaktian utama. Aku bahkan dapat merekonstruksi bangunan ini dalam otakku, di mana letak dapur, ruang pendeta, ruang koster, ruang musik, gudang, dan tentu saja… sebuah kamar kecil di loteng tempatku tinggal.

Aku masih terus melangkah hingga kaki ku menginjak sesuatu. Aku berjongkok untuk mengambilnya. Sebuah kalung safir berwarna ungu dengan rantai emas. Tentu saja aku mengenali pemiliknya. Memikirkannya membuatku sesak. Kilasan kejadian malam itu kembali mengisi ruang memoriku.
 *


“..Na! Anna!” samar-samar aku mendengar suara Paman Wil. Gedoran itu semakin keras hingga aku terpaksa bangun untuk membukakan pintu.

“Ada apa, Paman? Kenapa tengah malam begitu ri…” Aku baru hendak memutar kenop ketika Paman menyerbu masuk lalu menarik tanganku.

“Astaga, Anna! Kenapa begitu lama?! Apa kau tidak merasa panas? Gereja ini terbakar Anna!!”

Aku masih setengah sadar ketika Paman menyeretku menuruni tangga. Setelah ia mengatakannya, aku baru merasa udara memang sangat panas dan pengap, serta piyamaku basah oleh keringat.

“Kenapa? Bagaimana bisa?” kepanikan mulai melandaku, aku dapat mendengar sesuatu jatuh berdebum dari ruang sebelah.

“Aku tidak tahu, Anna. Yang jelas kita harus mencari jalan keluar! Kita tidak mungkin melewati pintu utama, karena sudah terhalang api,” baru kali ini aku mendengar Paman Wil setegang ini, dan kenyataan itu membuatku semakin takut.

“Paman, aku tidak bisa bernapas,” aku terbatuk beberapa kali, pandanganku mulai mengabur. Semuanya tampak buram dalam nuansa oranye kemerahan, aku tidak lagi mengenali jalan yang kami lewati.

“Bersabarlah, pintu belakang adalah satu-satunya harapan kita,” Paman menggendong tubuh kecilku dan mempercepat langkahnya. Ia mendekapku dalam pelukannya sementara kami melewati kobaran api.

“Oh, tidak mungkin!” Aku ikut mendongak ketika mendengar suara Paman, kulihat jalan menuju pintu belakang benar-benar tidak dapat dilewati.

“Kita tidak bisa keluar,” aku berbisik, air mata membasahi kedua pipiku.
“Tentu saja kita akan keluar, Sayang,” Paman Wil mengusap punggungku,”Aku sudah menelepon pemadam kebakaran tadi, yang harus kita lakukan hanya bersabar”.

Paman kemudian membawaku berbelok ke ruang makan, satu-satunya tempat yang tidak rusak terlalu parah. Di sana, kami duduk di sudut ruangan. “Kita harus berada sedekat mungkin dengan tanah untuk menghindari asap,” Paman Wil menjelaskan sambil mengusap kepalaku.

“Kenapa pemadam kebakaran begitu lama?” aku bertanya.

“Mereka pasti sedang dalam perjalanan”.

“Aku takut”.

“Aku di sini, Anna”.

“Bagaimana kalau kita tidak selamat?”

“Kita pasti selamat”.

Tepat pada saat itu langit-langit di atas kami roboh. Aku memejamkan mata, bersiap menghadapi rasa sakit yang akan menghantam. Namun, aku tidak merasakan apa pun.

Perlahan, aku membuka mata lalu mendongak. Paman Wil melindungiku dengan tubuhnya. “Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanyanya.

Aku menggeleng, tapi dapat kulihat tubuh dan kepalanya berdarah dan ia merintih menahan sakit. Lalu, saat aku melihat sekeliling, kami sudah terperangkap dalam api dan tidak dapat bergerak lagi.

“Anna,” Paman Wil memanggilku, sorot matanya terlihat lembut. Persis seperti saat ia pertama kali menampungku di gereja ini,”Kalau aku tidak ada…”

“Aku juga ingin mati,” aku menyelanya.

“Tidak, Anna. Jangan katakan itu!”

“Tapi, aku tidak akan punya siapa-siapa lagi!” Aku balas memeluknya dan mulai terisak,”Aku berbeda dari anak-anak lain, aku selalu dibuang, mereka bilang aku pembawa sial, mereka bilang aku kena tulah!”

“Ssshhhht,” Paman Wil mengecup puncak kepalaku,”Tulah apa yang menimpa malaikat secantik ini?”

“Paman… Jangan pergi… Bertahanlah sebentar lagi…” Aku memohon, sayup-sayup aku dapat mendengar sirene dari luar.

“Dengar Anna,” ia bersikeras,”Apa pun yang terjadi. Kamu harus kuat, bisa kan?”

Ingin rasanya aku menggeleng.

“Aku menyayangimu Anna. Selalu,” Aku tidak dapat mengingat lagi apa yang terjadi setelah itu, namun aku ingat pelukan Paman Wil mengendur dan benda terakhir yang kulihat adalah bandul safir ungu yang tergantung di dadanya.



Mereka mengusirku dari pemakaman Paman Wil, mereka bilang akulah penyebab kebakaran itu. Mereka bilang aku adalah kutukan.

Aku menggenggam kalung ungu tersebut kuat-kuat,“Jadi, Paman, katakan padaku bagaimana caranya agar aku tetap kuat?”