Friday, September 7, 2012

Is It Right? Or Wrong?


Misalnya, di dalam sebuah kelas saat hasil ujian dibagikan. Hanya ada satu dari empat puluh siswa yang lulus, dan itu pun hanya dengan nilai pas-pasan—anggaplah 60. Lalu, apakah berarti ke-tiga puluh sembilan siswa sisanya boleh bernapas lega atas nilai mereka yang jelek? Toh, semua orang juga dapat nilai jelek. Masih mending saya dapat 50, daripada yang lain, banyak yang dapat 40. Dengan keadaan seperti itu, apakah lantas berarti mendapat nilai jelek adalah wajar? Apakah nilai 50 lalu menjadi nilai yang ‘bagus’?

Kalau hampir semua orang mendownload lagu dan film bajakan, lalu apakah tindakan tersebut menjadi ‘biasa-biasa’ aja? Mungkin kita tetap tidak akan menyebutnya legal, tapi kita berhenti menganggapnya salah. Toh, semua orang melakukan hal yang sama.

Lalu, kalau semua orang berbohong, artinya kita juga boleh? Artinya bohong jadi manusiawi?

Here we are, compromising things, making excuse for whatever we do wrong. Getting numb.

‘Nggak apa-apa dapat nilai jelek, toh semuanya juga gitu. Siapa suruh gurunya ngajarnya nggak jelas.’

‘Nggak apa-apa download yang bajakan. Yang asli mahal banget sih. Lagian semua juga gitu kan?’

‘Bohong mah biasa—common mistakes. Everybody lies. Toh, gue nggak bohong yang sampai gimana-gimana banget.’

Benar salah itu patokannya apa sih? Siapa yang berhak mengatakan sebuah tindakan buruk yang biasa dilakukan semua orang jadi ‘biasa-biasa’ aja?

Beranikah kita berkata seperti ini:

‘Nilai 50 itu jelek, bahkan kalau nilai tertingginya 51 sekali pun. Kalau gurunya nggak jelas, ya belajar sendiri dong, atau tanya sama gurunya.’

‘Download film atau lagu bajakan itu salah. Nggak boleh. Semahal apa pun yang original, pembuatnya tetap berhak mendapatkan kredit atas karya mereka kan?’

‘Bohong itu dosa. Nggak peduli seluruh dunia melakukannya. Nggak peduli seberapa kecil itu menurut kita.’

Saya nulis ini juga masih belum bisa menerapkannya kok. I’m still compromising maaaaaany things.

No comments:

Post a Comment