Sunday, July 28, 2013

In a Conversation: #Love


“Gimana sama si itu? Masih ngedeketin lo?”

“Dia udah nggak pernah nelpon, jarang sms, udah jarang nanya kabar juga”.

“Oh…”

“Tapi kenapa ya? Padahal gue nggak suka dia, tapi begitu dia berhenti ngejar gue, gue merasa ada sesuatu yang hilang. Like, a little bit disappointed. Padahal, harusnya gue lega kan?”

“Wajar, kan? Namanya juga disayang. Siapa sih yang nggak suka dikasihi—diperhatiin, dipeduliin? Jadi, gue rasa wajar banget kalau lo merasa kehilangan”.

“Iya sih…”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Gue jadi mikir. Kalau gitu berarti selama ini dia nggak buang-buang waktu dong ya ngedeketin lo?”

“Gue ama dia kan nggak jadian, jadi gimana bisa dibilang nggak buang-buang waktu? Dari sudut pandang dia, it’s definitely a waste of time”.

“Tapi, dia bikin lo bahagia. Even cuma sebentar, even dianya nggak sadar, he’ve made you happy. Dia udah bikin lo merasa dikasihi.”

“Iya sih…”

Love is definitely never fail, right? Walau nggak sesuai yang dia harapkan, his love is actually never fail. Coba kalau elo bisa ngasih tahu hal ini ke dia, dia pasti seneng deh”.

“Nggak mungkin, ah. Nanti kalau dianya salah paham gue jadi ngasih harapan palsu dong”.

“Iya juga ya. Tapi, kalau dipikir-pikir, you loves him, right?”

“Kalau gue sayang dia, kita udah jadian”

Not that kind of love, love. Elo nggak mau nyakitin dia dengan nggak ngasih harapan palsu, dengan menghindari dia saat dia ngedeketin lo, gue rasa itu cara lo mengasihi dia”.

Well, kalau itu definisi elo tentang cinta. Yes, I love him. But as you said earlier, not that kind of love, love.”

“Tapi, menurut gue kalian cocok loh. Serasi. Nggak mau pikir-pikir lagi? Nggak mau didoain dulu? Haha… “

“…”



Tadinya nggak mau nulis ini sih, tapi entah kenapa dari semalam percakapan ini terngiang-ngiang terus, hehe.. Percakapan yang terjadi, satu tahun lalu? Atau dua tahun mungkin? Saya nggak ingat. Percakapannya nggak sepanjang ini sih, but in my head this conversation continued :P 

No comments:

Post a Comment