Sunday, July 22, 2012

Untitled 1


Suasana Charriot malam itu tidak terlalu padat, hanya ada Denza dan teman-teman yang diundangnya, serta beberapa pengunjung lain yang kebanyakan adalah pasangan.
“Jan mana, Za?” tanya Nadin, sahabatnya yang sudah sampai sejak tadi, bahkan sebelum undangan yang lain tiba.
“Tau nih, ditelponin HPnya nggak aktif,” Denza mulai cemas, pasalnya Jan bukan tipe orang yang jam karet. Kalau janjian cowok itu pasti datang sebelum waktunya, atau paling parah, lewat lima menit dari waktu janjian.
“Jangan kusut gitu dong, Birthday Girl. Baterenya abis kali, Za. Tenang aja lah, nanti juga nongol tuh anak. Paling kejebak macet,” Nadin menenangkan.
“Tapi dia tuh nggak biasa gini, Din,” Denza menggigit bagian bawah bibirnya, sambil mengamati Nadin. Sahabatnya itu nampak cantik hari ini dengan terusan krem selutut dengan motif bunga-bunga simpel di bagian pinggangnya. Denza jadi sedikit minder, berhubung dia yang berulang tahun aja nggak se-oke Nadin. Kadang Denza suka iri dengan sahabatnya itu, dengan rambut ikal sebahu dan kulit putihnya, nggak usah make-up aja Nadin udah menarik perhatian. Tapi sikap Nadin yang nggak pernah terlalu effort untuk memoles dirilah yang membuat Denza sadar kalau sahabatnya itu bukan tipe centil macam Keira dkk. “Gue jadi khawatir. Gimana kalau sampai Jan kenapa-napa?”
“Husss! Elo kok ngomongnya gitu sih? Ini kan hari ulang tahun lo. Lighten up!”
“Kangen gue ya?” Sebuah suara dalam yang sangat familiar di telinga Denza membuatnya menoleh cepat.
“Jan! Elo tuh kemana aja sih? Ditelpon nggak bisa, bbm nggak dibaca, gue hampir mati ketakutan tau, ka—“
Geez, Za. Calm down!” Jan tertawa kecil melihat sahabatnya sepanik itu.
“Huh! Elo enak tinggal ngomong!” Denza bersedekap.
“HP gue mati, dan Jakarta abis hujan gini nggak ada ampun macetnya,” Jan beralasan.
“Tuh kan, gue bilang juga apa,” sambar Nadin,”Elo Za, rileks dikit dong. Kebanyakan mikir sih lo jadi kayak ibu-ibu deh, gampang khawatir”.
“Lagian… Gue telat juga gara-gara ini kok,” Jan mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna krem dengan pita merah muda,”Jadi, maaf ya gue telat dan bikin lo khawatir”.
Denza menatap pemberian Jan, lalu beralih ke wajah pemilik mata coklat di hadapannya. Seumur hidup, ia tidak pernah bosan tenggelam di dalamnya; menemukan kejutan di baliknya; terpesona oleh keindahannya.
“Jadi…” Jan berdeham,”Diterima nggak nih permintaan maafnya?”
“Ya udah,” Denza membuang muka, setengah malu karena Jan memergokinya sembari terkekeh.
“Hadiahnya?” Jan tersenyum manis.
“Makasih ya,” Denza menerima kotak tersebut.
So, shall we start now?” Nadin menepuk tangannya,”Kasian tuh udah pada nunggu.”
May I?” Jan mengulurkan tangannya pada Denza sambil membungkuk.
“Jan! Elo ngapain sih?!” bisik Denza, malu diperlakukan semanis itu, terlebih lagi karena ia tahu Jan hanya bermaksud menggodanya—senang melihatnya salah tingkah.
“Apa? Gue nggak boleh melayani lo di hari ulang tahun lo?” Jan menaikkan sebelah alisnya,”FYI, banyak orang loh yang ngantri supaya bisa diperlakukan kayak gini sama gue”.
Really, Jan. You’re so annoying,” Denza akhirnya menyerah, menaruh tangannya dalam genggaman Jan.

Perayaan ulang tahun ke-18 Denza malam itu berlangsung sesuai rencana, hanya makan malam di Charriot dan dilanjutkan dengan foto-foto.

“Pulang bareng Jan?” tanya Nadin saat beberapa teman mereka mulai berpamitan.
“Yep,” Denza melihat sekilas ke arah Jan yang sedang asyik bercanda dengan teman-teman cowoknya di sudut restoran.
“Mau sampai kapan sih Za, elo sama Jan begini terus?”
“Begini gimana?”
“Sahabatan”.
Denza tertawa hambar,”Loh, emang iya kan?”
“Yang bener?”
“Apaan sih, Nad? Kok lo nanyanya aneh gitu?” Denza mengernyit.
“Tuh kan, elo nggak pernah mau ngaku,” Nadin memutar bola matanya.
“Ngaku apa?”
You likes him,” tukas Nadin.
Of course, Nad. Gue kan sahabatnya. Jelaslah gue sayang ama Jan”.
“Bukan itu maksud gue. Emangnya elo sayang Jan kayak elo sayang gue? Gue kan juga sahabat lo, gue juga bisa bedain, Za.”
Denza terdiam.
Admit it, Za,” desak Nadin,”Bentar lagi kita lulus, kuliah. Elo ama dia juga nggak satu kampus kan? Apa elo nggak nyesel? Apa lo merasa cukup dengan keadaan kalian yang sekarang?”
Denza menggigit bagian bawah bibirnya. Jauh di dalam hatinya, ia tahu Nadin benar. Ia tahu sahabatnya itu benar sejak awal, sejak kelas 10 dan Nadin menginterogasinya dengan pertanyaan yang sama. “Gue nggak bisa mempertaruhkan apa yang gue punya sekarang, Nad. Cheesy, huh? Hidup gue jadi novel ABG banget”.
Nadin menghela napas. Gemas dengan sepasang manusia bodoh yang selama tiga tahun ini senantiasa mengapitnya. “Dia juga suka elo, tahu?”
“Tahu dari mana? Elo nggak bisa seyakin itu,” jawab Denza, sekalipun kalimat Nadin barusan memberikan segenggam semangat baru baginya.
“Elo nggak percaya ama gue?” Nadin menaikkan kedua alisnya,”Nadin Cheyniza, sang penakluk laki-laki ini?”
Denza terkekeh mendengarnya. Track record sahabatnya soal pacaran emang nggak perlu diragukan lagi. Tahun ini aja, Nadin udah ganti pacar 5 kali. Parahnya, dari lima orang tersebut belum termasuk HTS-annya.
“Serius, Za. Gue bisa ngeliat itu dari matanya, dari cara dia memperlakukan elo, dari gesturnya, da—“
“Lagi pada gosipin apa nih?” Jan tiba-tiba menarik kursi di antara Denza dan Nadin,”Ikutan dong”.
Girls talk,” jawab Nadin galak,”Elo ganggu aja deh”.
“Sori, sori. Tapi sekadar ngingetin aja ya, sekarang jam sebelas,” Jan menunjuk jam tangannya,”Dan saran gue, sebaiknya kita pulang kalau nggak mau telat pemantapan besok”.
Nadin mengumpat saat mendengar kata ‘pemantapan’, ia masih belum terbiasa dengan jadwal di semester dua yang mewajibkan seluruh murid kelas 12 masuk di hari Sabtu untuk mengikuti kelas persiapan UN.
“Tenang aja, Nad. Kita bakal bebas dalam empat bulan ke depan,” Jan menanggapi.
“Empat bulan masih lama kali. Elo sih enak, punya otak encer banget,” cibir Nadin yang masih nggak rela hari leha-lehanya di sabotase pihak sekolah.
“Udah, udah. Balik yuk. Elo pulang ama siapa, Nad?” Denza menengahi.
“Biasa. Supir gue udah nunggu,” jawab Nadin sebelum ia menarik Denza untuk mendekat,”Bilang malem ini. It is your lucky day, after all”.
“Nadin…” Denza dapat merasakan mukanya menghangat.
Good luck!” Nadin melambaikan sebelah tangannya lalu melenggang pergi.
“Nadin bilang apa, Za? Apanya yang good luck?”
“Eh, nggak kok,” Denza tergagap,”Bukan hal penting. Yuk ah”.

Sepanjang perjalanan pikiran Denza sama sekali nggak bisa lepas dari percakapannnya dengan Nadin di Charriot tadi. Dukungan sahabatnya itu yang bilang kalau Jan juga memiliki perasaan yang sama sempat membuatnya melambung, memberinya dorongan untuk melakukan saran Nadin. Sebenarnya, Denza juga bisa melihat sih kalau Jan memperlakukannya dengan istimewa selama ini. Tapi… Bagaimana kalau kali ini Nadin salah? Bagaimana kalau ternyata Nadin nggak se-expert itu dalam urusan cinta? Kalau memang Jan punya perasaan yang sama, bukannya cowok itu harusnya sudah menyatakan perasaan dari dulu? Atau Jan juga punya pikiran yang sama dengannya? Nggak mau merusak persahabatan mereka? Kenapa sih mereka harus sahabatan? Bukannya ia menyesal bersahabat dengan Jan sih, tapi bukankah hidupnya akan lebih mudah kalau ia mengenal Jan tanpa embel-embel sahabat. Tapi, bagaimana kalau seandainya mereka tidak pernah bersahabat? Apa mereka akan sedekat ini? Apa ia juga akan jatuh cinta pada Jan? Apa—
“Oi!” Jan menjentikkan jari di depan wajah Denza,”Mikirin apaan sih?”
“Nggak…” Denza melayangkan pandang ke jendela di sebelahnya, mobil mereka kini melaju kencang di jalan bebas hambatan.
“Dari tadi ditanyain jawabnya ‘nggak’ melulu,” Jan kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya,”Cerita dong. Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa kok,” sergah Denza. Perhatian Jan yang kayak gini nih, yang sering membuatnya merasa tersanjung sekaligus jengah. Ia kadang bingung mencari celah untuk menghindar dari sikap peduli sahabatnya itu.
“Tuh kan, ‘nggak’ lagi. Bener nih nggak ada apa-apa?”
“Bener,” Denza mengusahakan agar suaranya terdengar setegas mungkin.
“Elo boleh cerita apa aja loh ke gue,” Jan masih bersikeras.
“Iya. Gue tahu kok. Kita udah kenal berapa lama sih?” Denza tersenyum,”Tapi emang lagi nggak ada yang bisa diceritain”.
“Nggak bisa atau nggak mau?” tanya Jan dengan nada jahil.
“Nggak bisa, Jan! Duh, elo ini!”
“Oke, oke,” Jan tergelak, tahu sahabatnya itu paling enak digoda kalau sudah terpojok,”Nah, gitu dong! Muka jangan dilipet terus, ini kan hari ulang tahun lo”.
Denza diam sejenak. Mungkin memang sebaiknya mereka seperti ini. Sahabatan. Nggak perlu ada rasa curiga, nggak perlu ada rasa cemburu, dan perasaan lain yang sering kali dikeluhkan oleh Nadin ketika pacaran. Mungkin, hubungan mereka yang berstatus sahabat sebenarnya lebih dari pacaran.
“Thanks ya, Jan,” tutur Denza saat mobil Jan akhirnya berhenti di depan rumahnya,”Buat ucapan selamat ulang tahunnya, buat kadonya, buat waktunya, buat kehadirannya, buat… jadi sahabat gue”.
“Denza?” kedua alis Jan bertaut, nggak biasa banget sahabatnya seserius ini,”Kok kayak mau perpisahan aja sih?”
Denza menggeleng. “Cuma kepikiran aja. Setelah tadi ngobrol ama Nadin, gue jadi sadar, ternyata gue beruntung banget ya bisa punya elo.”
Jan masih bingung dengan maksud Denza, tapi ia memutuskan untuk tidak ambil pusing. “Untuk persahabatan kita?” Jan mengepalkan tinjunya di hadapan Denza.
“Untuk persahabatan kita,” Denza menempelkan tinjunya pada milik Jan.
Forever and ever and ever,” mereka berseru bersamaan.
“Gue masuk ya, makasih udah nganter,” pamit Denza.
“Daaah, jangan telat besok,” Jan menurunkan jendela samping agar suaranya dapat terdengar,”Ngomong-ngomong, besok pulang sekolah ada waktu? Gue mau ngomong sesuatu ama lo”.
“Oke. Tentang apa?”
“Ada deh,” Jan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal,”Kalau gitu, sampai besok ya—“
TIIIIIN-TIIIIIIN!!!!!!
Denza dan Jan serentak menoleh ke jalanan di belakang mereka. Sebuah mobil van putih tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Dengan laju seperti itu mustahil van tersebut bisa berhenti tanpa menghantam mobil milik Jan.
“JAAAAANNN!!” Denza berteriak sekuat tenaga. Tangannya bergegas meraih pintu mobil untuk menarik Jan keluar. Namun seluruh penglihatannya terhalang oleh cahaya menyilaukan dari van tersebut, dan ia tahu semuanya sudah terlambat.

Saturday, July 21, 2012

Dreamt of You


I dreamt of you. Out of thousand people I could dream of, my head chose you. It was so real, like I could touch you. Felt your warmth under my skin. Taste your breath, smelled your evaporated scent. Heard your deep-composed-voice. It was just like the last time we met, your presence fascinate me. And I realized, all of my bones were begging for you. Even I wonder how many years have pass? How many years that we spent without each other? How much laugh and tears that we don’t share anymore? Are you doing fine? Cause I am outrageously missing you. And why on earth this dream came last night? Made fun of me, tortured me deep to the bottomless of my heart. It was so inevitably pleasant to have you. So incredibly captivating I wanted to drown in it forever; so pleasing I didn’t want to wake up. But I did. And I know for sure, the wound you ever made in me is opened again. Until I desperate enough to close it. Until I am dying for the cure.

picturetakenfrom:weheartit.com

Tuesday, July 17, 2012

When I Was A Kid


Sit. Eat. And you’ll know each other better.

Dan hari ini saya melakukannya dengan seorang teman. Duduk di sudut salah satu kedai pizza setelah berjam-jam window shopping. Ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang terlintas di kepala. Sampai akhirnya kami menyentuh topik masa kecil.

Topik yang bagi saya selalu manis dan ngangenin. Setelah ngobrol panjang lebar, saya seakan kembali diingatkan bahwa masa kecil itu memang ajaib banget. Mungkin karena kita masih kecil dan melihat dunia dengan ukuran yang jauh lebih besar, jauh lebih menarik untuk dijelajahi. Bayangkan saja, dulu saya selalu seru bermain petualangan di dalam rumah dan di taman, seakan saya benar-benar berada di dalam hutan.

Dan setelah ngobrol, saya jadi tertarik untuk menjabarkan seperti apa masa kecil saya:
  • Saya ngefans banget sama power ranger pink dan sering seru sendiri menirukan power ranger pink sedang membasmi kejahatan
  • Dulu saya nggak pernah ketinggalan nonton film seperti Saras 008, Panji Manusia Millenium, Tuyul & Mbak Yul, Jin & Jun, Jinny oh Jinny
  • Saya suka banget nonton Doraemon dan Si Unyil. Who doesn’t, eh?
  • Waktu zaman Petualangan Sherina lagi booming, saya sering main petualangan dalam rumah sambil bawa-bawa kotak makan isi coklat M&M
  • Waktu TK saya paling nggak bisa pelajaran menggunting, saya pernah nangis gara-gara nggak bisa menggunting
  • Waktu TK hampir setiap pagi saya beli kue-kue gambar binatang, yang ada bonus sticker di dalamnya.
  • Saya sering banget ikut-ikutan nyanyi lagunya Trio Kwek-Kwek, Tina Toon, Joshua, Enno, atau pun Chikita. Kalau dipikir-pikir saya termasuk generasi yang beruntung yah, masih punya lagu anak-anak.
  • Waktu SD sering banget main petak jongkok, galasin, sampai nenek gerondong.
  • Dulu sering banget sepedaan keliling kompleks


picturetakenfrom:weheartit.com
Yah, kira-kira begitulah masa kecil saya secara singkat. Pengen banget balik ke masa-masa itu, saat di mana masalah yang ada tuh cuma males disuruh makan sama tidur siang, hahaha… Anyway, life must go on, rite?

Sunday, July 15, 2012

I have a wonderful GOD


Semalam, waktu rangkaian acara Pekan Remaja di gereja akhirnya selesai, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas di benak saya. ‘Untuk apa sih pelayanan?’ dan jawaban yang sangat spontan yang muncul di otak saya adalah,’Untuk mengucap syukur’. Karena Tuhan udah baik banget sekalipun saya nakal banget, karena Tuhan sudah melayani saya lebih dulu.

Capek? Pasti. Apalagi seminggu belakangan ini. Tapi ketika rasa lelah diakhir hari itu juga dibarengi dengan rasa puas dan senang, I know I am doing the right thing. Saya tahu pilihan saya untuk melayani adalah tepat, dan saya merasa beruntung diberi kesempatan untuk melakukannya. Tuhan itu baik banget, bahkan ketika motivasi saya melayani adalah untuk mengucap syukur, Ia justru menjadikan ucapan syukur saya itu berkat untuk saya sendiri. I feel blessed cause I have a wonderful family at church, I am blessed cause I am chosen.

Dan yang paling membuat saya terkagum adalah, ketika kita melayani, Tuhan akan selalu mencukupkan segala sesuatunya. Baik itu waktu, tenaga, dan kemampuan.

Saturday, July 14, 2012

Soooo Can't Wait!!

For this:

picturetakenfrom:http://stiryourtea.blogspot.com/

And this:

picturetakenfrom:http://stiryourtea.blogspot.com/
Hope they'll be published soon!
You should read the first book first: Shatter Me. I'm so in love with it:D

Friday, July 13, 2012

The Excerpt


Gelap. Irene membuka mata, namun retinanya sama sekali tidak dapat menangkap cahaya. Sekujur tubuhnya menggigil di bawah lapisan kemeja tipis yang dipakainya, hidungnya menangkap bau pengap dan karat. Ia berusaha bangkit, tapi kepalanya serasa dihajar oleh batu. Atau, hal tersebut memang bukan perasaannya saja, ia memang dihantam oleh sesuatu. Keras, entah batu atau benda tumpul lainnya, yang jelas kepalanya berdenyut hebat saat ini.

Irene berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Bau alkohol, Minggu malam di jalan yang nyaris tak bergerak, musik The Script dari player mobilnya, keluhannya tentang kasus yang selalu menumpuk di meja, saran Jane untuk mengambil jalan kecil… Jane? Jantung Irene berdegup cepat.

“Jane…” kerongkongannya kering, entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. “Jane!!” Irene mencoba berteriak lebih kuat,”Janeee!” Kepalanya berdenyut makin hebat, namun ia memaksakan diri untuk bangkit. Irene mencari jalan dengan meraba dinding dingin tempatnya bersandar, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Tidak ada pintu, tidak ada jendela, juga tidak ada ujung. Ruangan tempatnya berada pasti sangat luas.

Irene tengah mempercepat langkahnya, saat sebuah suara dari seberang membuatnya waspada. Suara pintu. Detik berikutnya ia hampir dibutakan oleh sinar terang dari lampu-lampu di atasnya. “Mau kabur, eh?” mulut sebuah pistol menekan dahinya. Keringat dingin menjalari tubuhnya. Selama lima tahun ia menjadi detektif, baru sekarang ia berada sedekat ini dengan pistol.

“Di mana Jane?” ia memberanikan diri bertanya saat matanya mulai terbiasa dengan cahaya. Di depannya berdiri seorang laki-laki tegap, berbadan besar. Ia yakin otot-otot yang terbentuk di tubuhnya adalah hasil latihan intensif.

Laki-laki dihadapannya tertawa, memaksa Irene menghirup bau rokok dari napasnya. “Kau masih peduli padanya dalam keadaan seperti ini?”

“Kalau sampai terjadi apa-apa pada Jane,—“

“Apa? Hah?!” bentak laki-laki tersebut,”Apa yang akan kamu lakukan, Nona Manis? Memanggil semua teman-teman dari unit kesayanganmu itu? Membawa seluruh pasukan kepercayaanmu? Apa yang dapat kau lakukan sekarang?”

Jane menggigit bagian bawah bibirnya. Seluruh rasa takutnya telah berganti amarah. “Apa tujuanmu?!”

“Membuatmu menderita, Nona”.

Europe!


Finally, one of my biggest wishes had come true! Keliling Eropa! Yah, walaupun belum semua negara saya kunjungi sih… Eropa, seperti yang ada di kepala saya selama ini, dipenuhi oleh bangunan-bangunan kuno bersejarah. Dan yang nggak pernah membuat saya berhenti tahan napas adalah arsitektur dan seninya. Melihat-lihat karya seni dan arsitektur Eropa mengingatkan saya bahwa Tuhan memang menciptakan manusia begitu hebat. Bayangkan saja, zaman dulu—dimana teknologi belum secanggih sekarang, mereka sudah dapat membuat berbagai macam lukisan, pahatan, dan gedung yang rumit. Nggak cuma itu, gedung-gedung seperti gereja yang kelihatan rumit luarnya, ternyata bagian dalamnya lebih menakjubkan lagi, karena arsitektur bangunan ternyata memegang peranan penting dalam mengendalikan pantulan suara. Karena waktu itu belum ada sound system, bisa dibayangkan betapa hebatnya arsitek yang merancangnya sedemikian rupa sehingga suara sekecil apapun bisa terdengar jelas dan tidak bergema. Saya jadi berpikir, kalau dulu saja manusia sudah sehebat ini, maka nggak ada alasan bagi kita yang sudah dilimpahkan dengan berbagai kemajuan teknologi untuk nggak berkarya.

Tapi, yang disayangkan banget, saya banyak sekali menemukan gereja yang terbengkalai. Hanya jadi museum karya seni, tanpa dipakai beribadah. Sedang di Indonesia, untuk mendirikan sebuah gereja saja harus mati-matian minta izinnya.

Oke, lanjut ke liburan saya di Eropa. Saya beruntung sekali bisa melihat Floriade—pameran bunga terbesar dari seluruh dunia yang diadakan Belanda sepuluh tahun sekali. Tahun ini, acaranya digelar di Venloo, sebuah kota kecil yang sama sekali nggak terkenal sebelum diadakannya pagelaran ini. Cuaca yang sejuk benar-benar membuat saya menikmati suasana di sana, dan di seluruh bagian Eropa lain, kecuali Italia. Italy is incredibly HOT! Panasnya Jakarta jadi nggak ada apa-apanya dibanding Italia. But, still I like it a lot, especially Verona—the home of Romeo and Juliet, and Milan—where you can’t stop shopping!

Overall, it was an amazing experience. Hope I’ll be back someday, masih banyak banget tempat yang ingin saya kunjungi, dan Prague adalah salah satunyaJ