Sunday, October 20, 2013

more than you can take


At some points in your life you will face problems. Big problems. Problems you think bigger than you can take.

And when you tell someone or some people about it, they’ll say: “Be patient, God won’t give you problems more than you can stand.” An answer that makes you wants to yell at their face. “Forget that wise-religious-idealist answer, you don’t have any idea what I am going through”.

Your problems are there. Bigger than you can think. Greater than you can take. And you’ll think, you can't stand it anymore.

But isn’t that the point of all your problems? Isn’t the thought of ‘I can’t stand this anymore. This is bigger than what I can take’ the point of all you’ve been through? You can’t take those alone, that’s why you need GOD. Your problems are bigger than what you can stand, that’s why you need GOD who is bigger than anything.


Depend on GOD.
Than you’ll stand.

Tuesday, October 15, 2013

The Happy Pills


Aku duduk di pinggir lapangan basket yang kosong sore itu, angin yang berhembus membuatku setengah mengantuk. Aku melirik jam tanganku, masih ada lima belas menit lagi sebelum ekskur cheerleading Renza bubar. Aku mengalihkan pandanganku ke depan gerbang sekolah, pada kendaraan-kendaraan yang hilir mudik tanpa mempedulikan keberadaanku.

“Hai,” sebuah suara memecah lamunanku. Detik berikutnya orang itu sudah duduk di sebelahku, ikut bersandar dan menikmati suasana sore yang teduh.

“Lagi nungguin Renza selesai latihan cheers, kan?” tebaknya dengan senyum cerah yang khas.

Aku mengangguk, masih setengah terkejut karena mendapati orang yang seharusnya tidak pernah berbicara denganku kini duduk bersebelahan denganku. Ini bukan kali pertama kami berbicara. Ini adalah kali kesekian yang membuatku bertanya-tanya apa yang membuatnya mau berbicara denganku.

Aku bukan anak populer. Kalau saja aku tidak bersahabat sejak kecil dengan Renza yang adalah anak cheers, mungkin aku tidak akan punya teman sama sekali. Aku adalah anak yang duduk di pojok kelas, mengikuti pelajaran, lalu pulang. Tidak akan ada yang peduli jika aku tidak masuk, tidak akan ada yang menyadari jika aku bolos kelas. Aku adalah bagian yang tidak terlihat—the invisible, begitu aku selalu memandang diriku.

“The Zahir, Paulo Coelho.” Ia membaca judul buku di atas pangkuanku. “Yang kemarin udah selesai dibaca, ya? Yang ini bagus?”

“Bagus,” lagi-lagi aku mengangguk. Apa yang membuatnya tidak bosan berbicara denganku? Aku tidak punya ribuan kosa kata yang sanggup membuatnya tertarik.

“Baru selesai latihan band?” aku mencoba bertanya, tidak ingin terlihat membosankan di hadapannya.

“Iya, untuk closing cup minggu depan,” ia menjawab. Arga, gitaris band sekolah, masuk dalam jajaran anak paling populer. Punya banyak penggemar, supel, siapa pun mau berteman dengannya—he is all visible.

Aku menatapnya lama. Arga adalah orang pertama yang mau mencoba mengakrabkan diri denganku selain Renza. Ia adalah satu-satunya orang yang tertarik dengan apa yang kubaca di sekolah. Ia mau berlama-lama berdiri di depan mading dan membaca tulisanku. He doesn’t laugh at me when I told him I love the smell of the new book. He is the one, who compliments me for what I wrote. He is the one who makes me comfortable with myself.

“Ngomong-ngomong, ingat buku yang belum lama lo baca sebelum ini?” Arga bertanya. “The Fault in Our Stars?”

Aku mengangguk.

“Gue udah baca. Ceritanya sedih ya, gue sampai nangis”.

“Bohong,” aku menaikkan alisku.

“Elo nggak percaya gue nangis?”

“Gue nggak percaya lo baca buku itu”.

Really? Tampang kayak gue bukan tampang baca buku, ya?” Ia tertawa kecil. “Gue benar-benar baca loh. Hazel Grace? Augustus Waters? I love the idea of the infinity in their story”.

Aku mengulum senyum, “Iya, iya. Gue percaya.” Apa yang membuat orang seperti Arga mau bergaul denganku?

“Arga!” teriakan dari seberang lapangan membuat kami menoleh.

“Eh udah dulu ya, gue pulang bareng Rio,” Arga bangkit sambil menyandang gitarnya. “Ngomong-ngomong, elo datang ke closing cup minggu depan?”

“Gue nggak suka keramaian,” aku menjawab.

“Oh ya? Sayang banget. Padahal gue sama anak-anak main. I’ll treat you something if you come,” Arga tersenyum jenaka.

Aku membalas tatapan Arga, laly tersenyum. “Oke, coba gue pikir-pikir dulu kalau gitu.”

Great. Gue duluan ya!” Arga melambaikan tangannya lalu berbalik pergi.

“Arga lagi?” Renza muncul di belakangku sebelum sosok Arga menghilang sepenuhnya. “Kelihatannya dia suka sama lo, tuh,” Renza menyikutku dengan senyum jahil.

“Apa sih, Za?” Aku memasukkan novel di pangkuanku ke dalam tas. “Yuk ah, udah sore nih.”

“Eh, ngomong-ngomong, tiket closing  yang kemarin lo beliin buat gue masih ada?” Aku bertanya.

“Loh, katanya nggak mau dateng?”

I think I’ll consider it,” Aku menggigit bagian bawah bibirku.

“Ah, gue tau. Lo pasti pengen liat Arga main kan?” Renza tertawa kecil. “You like him, right?

Well, I don’t hate him,” Aku menunduk dalam-dalam. “He read John Green for me”.

“Arga? Baca buku?” Renza membelalak. “Whoaa, he definitely likes you! Elo juga suka dia kan? Ya udah tunggu apalagi? Akhirnya ya, temen gue yang kutubuku ini dapet pacar juga!”

“Zaaa,” Aku memutar bola mata. “Gue bilang gue nggak benci dia. Bukan berarti gue suka, kan?”

“Ya, ya, ya.” Renza masih cekikikan kecil,”Tinggal tunggu waktu aja kok sampai  lo ngaku. Congrats, ya!”

“Renzaaa…” Aku menatap sahabatku dengan wajah yang terasa panas. Entahlah, munkin Renza benar, mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang aku sadari di tengah sore yang menyenangkan ini adalah, untuk pertama kalinya aku menyukai diriku. Karena Arga. Dan kupu-kupu yang tengah bermain di perutku.

Wednesday, October 9, 2013

a midnight call


Saya ingat saat teman saya mengingatkan saya untuk saat teduh beberapa hari yang lalu, respon saya adalah,”Itu mah nggak mungkin lupa dong”. Memang sih, kalau udah terbiasa dengan satu hal sejak kecil, kemungkinan lupa akan kecil banget. Tapi, satu hari dan beberapa hari setelah saya bilang seperti itu ke teman saya ini, benar-benar jadi hari-hari yang penuh cobaan untuk nggak saat teduh. Banyak tugas, capek, pulang malam, satu-satunya hal yang membuat saya tetap saat teduh adalah perjanjian yang mengharuskan teman-teman saya membayar Rp 5.000,00 untuk setiap kali saya bolong saat teduh. Berkali-kali saya mikir, ‘apa bolong aja ya? Toh cuma sekali-kali, dan ini juga karena udah capek banget…’ Dan kemarin saya hampir benar-benar bolong saat teduh.

Jadi kemarin saya keluar rumah pukul 07.30, dan baru pulang pukul 10.00 malam. Seharian memeras otak untuk ngerjain tugas kelompok business plan yang buat anak kedokteran super ribet benar-benar membuat saya nggak ingin melakukan apa-apa lagi begitu sampai rumah. Kepala saya sakit banget dan saya cuma ingin pulang, mandi, lalu tidur sampai pagi.

I was half asleep when my phone rang. Satu whatsapp dari seorang teman yang bunyinya,”udah tidur lu?” Di kepala saya, saya udah siap ngetik: ‘udah mau nih. Mau cerita ya? Besok aja ya, gue lagi capek banget’. Saya nggak tahu apa yang membuat saya nggak ngebiarin aja whatsapp teman saya itu, saya bahkan nggak membalasnya dengan kalimat yang sudah ada di otak saya. Instead, I replied: “Kenapa?”

Lalu masuklah cerita panjang lebar teman saya ini. Sambil setengah ngantuk, dan setengah membaca cerita teman saya, something popped up in my head. ‘Kamu nggak benar-benar capek kalau masih bisa mendengarkan curhat teman kamu. Kalau kamu masih bisa nyediain waktu untuk dengerin teman kamu, masa sih kamu nggak punya waktu buat dengerin Tuhan?’

And that thought saved me last night. Satu whatsapp dari teman saya membuat saya akhirnya bangun, berdoa, dan saat teduh. Dan mengingat hari ini akan sama melelahkannya seperti kemarin—bahkan mungkin lebih, saya harap hari ini saya juga bisa melewati malam ini tanpa bolong saat teduh, hehe…

Have a blessed day, people!

Tuesday, October 8, 2013

blind


Love is not blind, it sees, but it doesn’t mind.—Ares


Liv menatap ke dalam cermin. Ia nyaris tidak mengenali sosok yang dilihatnya. Wajah pucat dengan kepala yang terbalut scarf hitam polos milik Ibu. Setiap memandang dirinya sendiri seperti ini selalu membuat hatinya sakit. Kemoterapi merenggut hidupnya sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi rambut sepunggung yang selalu ia ikat satu saat ke sekolah. Bagian bawah matanya kini menghitam, bibirnya kering dan pecah. Satu-satunya yang masih bertahan di sana hanyalah binar matanya yang entah sampai kapan masih dapat dipertahankannya.

“Liv, koper lo gue taro sini ya,” suara Ares membuatnya menoleh. Liv mengangguk pada Ares yang berada di samping lemari kamarnya. Di mata Ares, seperti apa ya dirinya yang sekarang?

“Thanks ya, Res,” Liv nggak tahu apa yang membuat Ares masih bertahan di sisinya. Menemani dirinya bolak balik kemo ke rumah sakit, membersihkan bekas muntahannya, bergantian dengan Ibu menjaganya selama diopname.

“Udah ya, gue balik dulu. Jangan capek-capek—“

“Eh, Res,” Liv mendadak teringat sesuatu. Ia membuka laci meja belajarnya. “Gue belum sempat ngasih lo kado ulang tahun kemarin ini. Padahal gue udah beli”.

“Mana ya…” Liv mengobrak-abrik isi lacinya. Mencari kotak kado marun yang seingatnya ia letakkan di sana. Tidak ada. Ia kemudian berpindah ke lemari dan membongkar isinya.

“Pelan-pelan aja carinya, Liv,” Ares duduk di atas ranjang Liv. Emosi Liv yang naik turun belakangan ini sering membuatnya khawatir.

“Kenapa nggak ada ya—“ Liv mulai panik, belakangan ini ia lebih sering melupakan banyak hal. Kebanyakan sepele, namun tetap saja hal-hal tersebut membuatnya takut. “Gue yakin kok udah gue beli. Gue ingat, gue—“

“Liv!” Kaki Liv tersandung boneka beruang yang terjatuh saat gadis itu hendak berbalik, namun untungnya Ares berhasil menahan pergelangan tangannya.

Liv terdiam karena kaget. Ia tidak dapat berkata apa-apa, namun setetes air mata mengalir di pipinya. Ia merasa semakin tidak mengenal dirinya sendiri akhir-akhir ini. Tumor di otaknya seakan mengambil alih hidupnya, menjadikannya orang lain.

“Pelan-pelan aja, Liv. Nggak ketemu sekarang juga nggak apa-apa kok”.

“Kenapa, Res?” Suara Liv bergetar. “Kenapa lo masih ada di sini? Keadaan gue nggak akan tambah baik, gue mungkin akan ngelupain lebih banyak hal termasuk elo. Emosi gue akan semakin nggak stabil, gue akan lebih sering marah-marah, gue akan lebih sering nyakitin lo. Jadi, kenapa elo masih di sini?”

“Karena ini elo, Liv. Karena ini elo makanya gue masih di sini,” Ares menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu dengan kikuk ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kalung.

Liv menatap benda itu lekat. Hanya kalung imitasi, namun tetap saja ia terkejut. “Boleh gue jadi pacar lo?”




This post was made in the middle of a never-ending business plan task *sigh* and I wrote this while my other friends were busy doing their tasks. enough for the quick break, let's get back to work. And oh, forget this unimportant note.

Thursday, October 3, 2013

complain, complains


Ini pertama kalinya saya nulis blog di jalan—di mobil. The traffic was awful, but luckily I bring my best friend—my laptop, hehe… Kalau pada dengar berita, ada kebakaran di Jelambar, lokasi kebakarannya persis di belakang kompleks saya, dan akses menuju rumah saya otomatis macet banget sejak siang tadi.

When I bored, I write. When I thought about what to write, I suddenly thought about the fire. Belakangan ini banyak banget kebakaran, dan salah satu korban kebakaran hari ini adalah supir saya. The one who was driving at the front seat while this post was written. I wonder what’s going on in his head. Kontrakannya terbakar, dan hari ini ia harus tidur di tempat lain. Ditambah lagi, sampai semalam ini dia masih harus mengantar saya pulang. Ketika pagi ini ia pergi kerja, apa yang ada dipikirannya? Apa ia punya firasat sesuatu yang buruk akan terjadi? Atau ia sama sekali tidak merasa apa-apa? Did he went to work happily this morning? What about now? Apa yang sedang ia pikirkan—rasakan sekarang?

Then I looked to myself. Apa yang saya alami dan lakukan hari ini? When I thought about this, I feel ashamed. Hari ini saya banyak banget ngeluh. Saya mengeluh karena harus masuk pagi dan pulang jam empat sore, padahal saya masih bisa belajar di ruangan ber-AC. Hari ini saya mengeluh karena perjalanan pulang saya dari kampus melelahkan sekali—saya baru sampai rumah pukul setengah enam sore, padahal terlepas dari macet yang parah, saya masih bisa duduk dengan nyaman di dalam mobil sambil mendengarkan radio. Hari ini saya mengeluh karena tiba-tiba saya flu, padahal saya baru kena flu satu bulan yang lalu. Hari ini saya mengeluh karena besok tiba-tiba ada kelas pengganti, padahal saya sudah punya rencana untuk pergi ke suatu tempat. Hari ini saya mengeluh karena… banyak hal.

Saya mengeluh, padahal hari saya masih jauh lebih baik daripada hari yang dialami supir saya. He has all the reasons to complain. I don’t know what’s in his heart. But, I got one thing today, when you’re about to complain for anything, remember that you don’t own the whole world’s problems.