Tuesday, September 29, 2015

On the darkest nights.

I thought it was the most distressing days of my life. I was in the middle of my clerkship and placed in surgery department—in a town I’ve never been before. Sleepless nights, back-to-back night shifts, those textbooks that I’ve to learn. I was totally worn out. A friend of mine reminded me to keep praying. I answered him right away, ”I am in a stage where I feel that praying doesn’t help me anymore, I can’t feel God’s presents, He do nothing to ease my burden.”

I doubted that God care about my condition.

And so I skipped my bible reading routine, I only pray because it’s a habit; a habit before I go to sleep, a habit before I eat—I don’t even paid any attention to what I’m praying for. Practically I retreated from God. I stopped to share my feeling to him, I stopped to ask anything either, simply because I felt that he don’t understand how hard and heavy my life is.

But there’s this one day when he proved me wrong. On that day a nurse came to me, and out of nowhere she asked me if I go to church. I looked at her, tried to remember if I’ve ever told her that I’m a Christian. She asked me the same question again. I answered, ”Of course, I go to church”.

“No,” She shook her head. “I mean do you go to church here?”

“Here?” I repeated, still couldn’t understand why she asked me that kind of question. “No, these hospital things kept me busy even on Sunday, I have no time to go to church—I can’t go to church.” Actually, I don’t even try to find any church around the neighborhood.

“Now you’re making an excuse, kid,” she scolded me. “It’s really important to go to church. Put God first.”

I couldn’t say a word. It’s like God talked to me through the nurse.

“There is a church around here, you just need to take a little walk from the hospital,” She added, then left me alone at the nurse station.

My heart sank. I almost couldn’t hold my tears. It’s like being touched by God. It’s like hearing God said directly to me, ”Hey, I miss you”.

And he proved me wrong.

He does care about me on my darkest nights.
And he does care about you too.
Believe me. Believe him.

picturetakenfrom:pinterest.com


Thursday, September 24, 2015

aimer

Lo dimana?

Aku menatap  pesan yang baru saja kukirim di layar ponsel tanpa berkedip.

Kaftée & Bun

Kedua sudut bibirku tertarik ke atas saat jawaban itu tiba hanya beberapa detik setelahnya.

            Oke, gue ke sana ya.

Aku memasukkan ponselku ke saku celana, lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tengah.

*

Suasana Kaftée & Bun tidak terlalu ramai. Tentu saja karena hari ini bukan akhir pekan dan jam pulang sekolah masih belum tiba. Hanya ada beberapa pengunjung berusia dua puluhan yang sibuk dengan laptop dan pekerjaan mereka masing-masing.

Pikiranku mau tak mau melayang pada lima tahun silam, saat kafe ini baru dibuka dan dekorasinya belum seapik sekarang, namun tetap saja, tempat ini jadi tempat favoritku. Karena di sini, aku menghabiskan banyak waktu untuk mengenalmu.

Mataku menyapu seisi ruangan. Tak sulit menemukanmu. Aku mengulum senyum. Lima tahun. Dan kamu sama sekali tidak berubah. Kamu masih Mila yang akan memilih duduk di sudut dengan secangkir ice café latte ditemani buku favoritmu.

Masih ingatkah kamu, dulu ketika kita dengan seragam putih abu-abu menyerbu masuk tempat ini—berusaha secepat mungkin menyelamatkan diri dari teriknya matahari di luar sana, kamu dengan kecepatan penuh akan menghempaskan dirimu di sana, di sofa yang berada di pojok, tempat yang sering luput dari pandangan orang-orang—bahkan pelayan kafe ini sekalipun. “Suka banget ‘ngumpet’ di sini,” begitu aku pernah berkomentar, “Gue nggak suka jadi pusat perhatian,” dan itu jawabanmu.

“Hai,” Aku menyapamu setelah lima tahun tak berjumpa. ”Mila,” Dan ini adalah kali pertama aku menyebut namamu lagi dengan lidahku, rasanya seperti rasa rindu bercampur bahagia yang tumpah.

Kamu mendongak. “Hai, lama nggak ketemu.” senyummu merekah, senyum yang sama seperti yang selalu ku ingat. Kamu benar-benar tidak berubah. Masih Mila yang sederhana tanpa pulasan make up. Mila yang cukup bahagia dengan kaos dan jeans serta rambut kuncir kuda.

Kamu mempersilakanku duduk.

Aku terpaku.

Percayakah kamu, jika kubilang aku mengencani beberapa gadis di Paris? Semua dari mereka berperawakan tinggi semampai, pandai bersolek, berpakaian modis, cerdas, pintar membawa diri. Oh, tentu saja kamu akan percaya. Tapi percayakah kamu, jika kubilang tak ada satu pun dari mereka yang mampu mengalahkan daya tarikmu? Mungkin kamu akan tertawa mendengar hal ini. Aku juga tak mengerti. Entah bagaimana kamu justru terlihat cantik dan bersinar dengan segala kesederhanaanmu itu.

Aku percaya aku akan jatuh cinta lagi padamu jika aku berbicara denganmu.

“Mila,” Sebuah suara merusak konsentrasiku. Seorang pria yang tak kukenal menghampirimu, mengecup keningmu ringan.

“Hai, Di,” Kamu tersenyum lebar, senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. “Kenalin Di, ini Damar, temen SMA aku yang waktu itu pernah aku ceritain sekolah di Paris. Damar, ini Aldi, pacar gue”.

Aku memaksakan seulas senyum. Kamu tidak pernah bercerita tentang Aldi. Sejak kapan kalian bersama?

Bodoh.

Aku tersenyum pahit.

Bodoh.

Aku memiliki kesempatan besar lima tahun lalu. Seharusnya aku mengatakannya waktu itu. Saat kita sering menghabiskan waktu di sini ditemani tumpukan soal yang seakan tidak ada habisnya. Saat aku dan kamu bisa saling tertawa lepas dihadapan satu sama lain.

But the thing is, we’re all scared to say the things worth saying, aren’t we?

picturetakenfrom:pinterest.com


Saturday, August 22, 2015

will never enough

"Satu minggu," Kana menerawang menatap anai-anai yang mengerubungi lampu taman rumahnya. Sepuluh ekor. Ia meneguk teh berperisa lemon dalam kemasan yang sejak tadi digenggamnya. Manis dan kecut, seperti rasa yang tengah bermain di hatinya. Sudut bibir Kana tertarik ke atas sepersekian senti. Ia ingin menertawai dirinya sendiri.

"I wish I am not an idiot," Kana menghembuskan napas berat. Angin malam yang berhembus membuat bulu kuduknya meremang. Ia merapatkan jaket yang dikenakannya. Semua akan berbeda jika ia masih di sini. Kana memejamkan matanya rapat-rapat, mengutuki pikiran yang muncul di otaknya. Stop Kana!

"You're not an idiot," Alex berdeham, laki-laki yang sejak tadi duduk di sebelah Kana itu akhirnya menemukan suaranya.

Kana mendengus. Gue bahkan bisa membayangkan dia ada di sini, gue bisa mencium aroma tubuhnya, merasakan hangat napas dan tubuhnya, Lex! "I still can hear his voice everynight before I go to sleep, then tell me I'm not an idiot".

"You're not an idiot," Alex berkata dalam intonasi yang sama seperti sebelumnya.

Kana memejamkan mata, berusaha menahan air matanya. Satu minggu adalah waktu yang cukup lama untuk mengasihani diri sendiri. "Rasanya gue ingin memutar balik waktu, mengulang segalanya dari awal, mencintainya dengan lebih baik".

"Kalau waktu bisa diputar, nggak akan ada orang yang patah hati," Alex merespon. "Nggak akan ada orang kayak lo yang nangis berhari-hari cuma karena seseorang".

"Reo bukan 'cuma' seseorang, " protes Kana. "Dia seseorang. Seseorang yang selama tiga tahun ini udah jadi dunia gue," Kana berbisik.

"Ya, ya, ya," Alex memutar bola matanya. "Kalau gitu kenapa lo putusin dia?"

"Kenapa? Karena dia punya Alya, Lex!" Kana merasa pelipisnya berdenyut, udara di sekitarnya terasa berat.

"Alya bukan pacar Reo. Elo pacar Reo," Alex mengurai kenyataan yang ada. "Alya cuma orang asing yang dijodohin ke Reo oleh orang tuanya. Reo nggak cinta sama Alya".

"Tapi Alya sayang sama Reo," suara Kana bergetar. Ia kalah telak, baik dari Alya maupun dirinya sendiri. "Dan Alya adalah tipe wanita baik-baik".

"Lalu?" Desak Alex.

"Alya lebih cocok buat Reo. Keluarga mereka sama-sama berada dan udah saling kenal. Gaya hidup mereka berdua nggak jauh berbeda. Alya akan mencintai Reo dengan lebih baik daripada gue. Lagipula gue percaya rasa cinta bisa tumbuh. Reo akan bisa mencintai Alya pelan-pelan".

Alex tidak menanggapi.

"I realize that I haven't love him enough, and I'm afraid I can't love him enough. Now you can say that I am an idiot".

"No, you're not an idiot," Alex berkata untuk yang ketiga kalinya. "You just love him, that much 'till you afraid to hurt him".

Air mata Kana akhirnya turun perlahan.


"Karena mencintai orang yang kita cintai nggak akan pernah terasa cukup, Kana. Tapi justru hal itulah yang membuktikan kita benar-benar mencintai seseorang," Alex tersenyum tipis, ia mengusap pelan kepala sahabatnya. "Now when you already know that, don't screw up the next time you fall in love with someone".

picturetakenfrom:pinterest.com

Monday, July 27, 2015

a mercy in disguise

It was a fine afternoon. An old man and her wife sat in front of a doctor. The man was sat on a wheel chair; his bony figure shook a little. The doctor said he had to be hospitalized. The man suffered for weeks because of his abdominal pain, he had done two surgeries, and now the pain was just unbearable. His wife was beside him, sitting still and took whatever the doctor told them.

The man sighed a deep and heavy breath. Maybe tired for all he has been through. “Why does it have to happen? Why I’ve to be sick again? My wife is sick too and she doesn't even have a chance to go to doctor because of me.” He said it in a whisper. His wife nodded. “I’ve registered to the interna department but no one would took care of my husband if I took my turn. What should I do, my husband is on a wheel chair.”

“I’m sorry to here that,” the doctor said.

The old man sighed for the second time. “Maybe this is the way of God to keep me near. Maybe I would forget Him if I’m not sick. I should be grateful, shouldn’t I?”

I was stunned. And—may be I’m too exhausted so I became a little bit mellow and touchy, for a split second my tears nearly welled. It’s like God himself talked to me, patted me on my back, touched the deepest part on my heart, and rocked me to make me realized that it’s okay, it’s okay, it may be too hard for you now, but I’m here and will always be near. And those troubles and tears you suffered these days are something to keep you near to me.


Cause what if your blessings come through rain drops
What if your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights are what it takes to know You're near

What if my greatest disappointments or the aching of this life
Is the revealing of a greater thirst this world can't satisfy
What if trials of this life
The rain, the storms, the hardest nights
Are your mercies in disguise
—Blessings

picturetakenfrom:pinterest.com

Wednesday, June 10, 2015

kembali.

Kaki Adhira Artika menyentuh pekarangan rumahnya setelah sekian lama. Banyak yang berubah di sana, halamannya bukan lagi sebuah taman yang dihiasi aneka bunga warna-warni kesukaan ibunya. Masih lekat dalam ingatannya ketika dirinya yang berumur sembilan tahun saat itu sering menghabiskan waktu di taman kebanggaan ibunya, mereka sering menggelar tikar di atas rumput dan menyesap teh bersama di sore hari.

Angin sore itu berhembus pelan, menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di teras rumahnya. Adhira tidak dapat mengingat sejak kapan rumahnya menjadi dingin dan kaku. Tidak ada lagi cahaya di sana, tidak ada lagi gelak tawa yang terdengar di dalamnya, tidak ada lagi setetes kehangatan yang mampu mencairkan udara suram yang melayang-layang di udara.

“Non, Ara?” Adhira menoleh saat panggilan kecilnya terlantun di udara. Suara yang begitu dikenalnya—suara yang selalu menyambutnya saat kaki-kaki kecilnya melangkah lincah menyeberangi halaman sekolah menuju gerbang.

“Pak Hasna,” Dilihatnya seorang laki-laki yang jauh lebih tua dari yang diingatnya. Kerut-kerut usia tercetak jelas di seluruh wajahnya, tangannya penuh dengan keriput-keriput, tubuhnya yang dulu tinggi tegap kini mulai bungkuk, namun satu yang tak berubah dari Pak Hasna—supir setia keluarganya, adalah senyumnya yang seakan tak dapat lekang oleh waktu. “Non Ara sudah dewasa ya, sampai pangling Bapak”.

“Bapak masih di sini?” Ara melangkah mendekat, hak sepatunya menimbulkan bunyi nyaring yang memecah kesunyian. Menurut perhitungan Ara, Pak Hasna seharusnya sudah pensiun sejak lima tahun yang lalu.

Pak Hasna mengangguk, masih sambil tersenyum. Senyum yang menurut Ara tidak pantas didapatkannya. “Ibu sudah minta Bapak untuk pensiun dari lama, tapi kalau lihat Ibu, Bapak jadi nggak tega Non. Kasihan Ibu sendiri. Kalau Bapak pensiun, nggak ada lagi yang bisa mengantar Ibu kemana-mana”.

Ara terdiam. Pak Hasna baru saja melemparkan sebilah tombak ke hatinya dan Ara tidak berniat untuk mencabutnya karena ia merasa layak mendapatkannya. Kilasan memori memenuhi kepalanya, berganti-gantian dengan cepat, seperti potongan film yang difastforward. Di sini—di rumah yang hampir sepuluh tahun ia tinggalkan, banyak hal telah terjadi. Di sini ia memulai hidupnya dengan penuh tawa, namun di sini pula ia mengenal tangis yang tak pernah berhenti sepanjang malam. Saat Ayah meninggalkannya dan Ibu, saat Ibu menjadi depresi dan tak dapat mengurus dirinya sendiri, saat Ibu membawa seorang laki-laki dan menjadikan rumah ini bagai neraka bagi Ara, Ara tahu suatu hari nanti ia harus pergi. Dan ia melakukannya di ulang tahunnya yang ke-19, di malam saat ayah tirinya membuka pintu rumah dengan bau alkohol yang menyengat dan mulai memukuli ibunya.

Ara pergi. Ia tahu meninggalkan Ibu adalah pilihan terburuk dalam hidupnya, namun berada di rumah ini berarti menciptakan trauma dalam hidupnya lagi dan lagi.

“Maaf, Pak,” Setetes air mata jatuh membasahi pipi Ara. Ia tahu ‘maaf’ bukanlah kata yang cukup untuk membayar kesalahannya. Pak Hasna menggeleng lembut, seakan mengerti segala keputusan bodoh yang dibuatnya beberapa tahun lalu. “Dan terima kasih karena sudah menggantikan Ara menjaga Ibu”. Ara merasa pertahanannya runtuh, ia meluruh ke tanah bersamaan dengan segala penyesalannya yang mengalir deras. “Maaf,” Ia berbisik, meski ia tahu segalanya sudah terlambat. “Maaf, maaf, maaf”.

“Non Ara,” Ara merasakan sebuah pelukan hangat membungkusnya. “Nggak ada yang perlu disesali. Tahu apa yang Ibu bilang sebelum pergi? Ibu bangga sama Non Ara, Ibu bersyukur Non Ara bisa tumbuh dengan baik di luar sana, bahkan bisa sampai kerja di Amerika. Waktu tahu Non Ara jadi pembawa berita di sana, Ibu langsung pasang parabola, katanya mau lihat Non Ara siaran. Sampai hari terakhirnya, TV ibu nggak pernah mati loh, soalnya Ibu nggak pernah tahu kapan Non Ara akan siaran lagi”.


Ara merasa sekujur tubuhnya bergetar semakin hebat. Ia merindukan Ibu. Ia berharap dapat memutar waktu, ia ingin kembali bertemu Ibu, memeluknya, meminta maaf, menghabiskan waktu satu hari lagi bersamanya, dan mengubah segalanya.


picturetakenfrom:pinterest.com

Thursday, May 14, 2015

until we try

“You must help him,” a friend of mine asked me. Her eyes were all gleaming with tears. For a brief moment I was stunned. Staring at her. Don’t know what to say. I have no idea if I can help him. I never have any idea that I can help him.

“You must help him,” she said it again. Twice. Begging this time. “Please”. I was still in my silence.

Maybe, I thought. Maybe too often we are just don’t realize things that we’re capable of. The truth that we can make a change. Maybe we are just sitting there all this time, waiting for something to happen. But, we don’t realize, that that something maybe won’t happen if we don’t make it happen.

Maybe we think that we are too tiny to make a difference, that we are powerless, incompetent, or too incapable to stand any chance. But the truth is we don’t know anything.
Not a single thing.
Until we try.
To make a change.


A difference.