Monday, July 27, 2015

a mercy in disguise

It was a fine afternoon. An old man and her wife sat in front of a doctor. The man was sat on a wheel chair; his bony figure shook a little. The doctor said he had to be hospitalized. The man suffered for weeks because of his abdominal pain, he had done two surgeries, and now the pain was just unbearable. His wife was beside him, sitting still and took whatever the doctor told them.

The man sighed a deep and heavy breath. Maybe tired for all he has been through. “Why does it have to happen? Why I’ve to be sick again? My wife is sick too and she doesn't even have a chance to go to doctor because of me.” He said it in a whisper. His wife nodded. “I’ve registered to the interna department but no one would took care of my husband if I took my turn. What should I do, my husband is on a wheel chair.”

“I’m sorry to here that,” the doctor said.

The old man sighed for the second time. “Maybe this is the way of God to keep me near. Maybe I would forget Him if I’m not sick. I should be grateful, shouldn’t I?”

I was stunned. And—may be I’m too exhausted so I became a little bit mellow and touchy, for a split second my tears nearly welled. It’s like God himself talked to me, patted me on my back, touched the deepest part on my heart, and rocked me to make me realized that it’s okay, it’s okay, it may be too hard for you now, but I’m here and will always be near. And those troubles and tears you suffered these days are something to keep you near to me.


Cause what if your blessings come through rain drops
What if your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights are what it takes to know You're near

What if my greatest disappointments or the aching of this life
Is the revealing of a greater thirst this world can't satisfy
What if trials of this life
The rain, the storms, the hardest nights
Are your mercies in disguise
—Blessings

picturetakenfrom:pinterest.com

Wednesday, June 10, 2015

kembali.

Kaki Adhira Artika menyentuh pekarangan rumahnya setelah sekian lama. Banyak yang berubah di sana, halamannya bukan lagi sebuah taman yang dihiasi aneka bunga warna-warni kesukaan ibunya. Masih lekat dalam ingatannya ketika dirinya yang berumur sembilan tahun saat itu sering menghabiskan waktu di taman kebanggaan ibunya, mereka sering menggelar tikar di atas rumput dan menyesap teh bersama di sore hari.

Angin sore itu berhembus pelan, menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di teras rumahnya. Adhira tidak dapat mengingat sejak kapan rumahnya menjadi dingin dan kaku. Tidak ada lagi cahaya di sana, tidak ada lagi gelak tawa yang terdengar di dalamnya, tidak ada lagi setetes kehangatan yang mampu mencairkan udara suram yang melayang-layang di udara.

“Non, Ara?” Adhira menoleh saat panggilan kecilnya terlantun di udara. Suara yang begitu dikenalnya—suara yang selalu menyambutnya saat kaki-kaki kecilnya melangkah lincah menyeberangi halaman sekolah menuju gerbang.

“Pak Hasna,” Dilihatnya seorang laki-laki yang jauh lebih tua dari yang diingatnya. Kerut-kerut usia tercetak jelas di seluruh wajahnya, tangannya penuh dengan keriput-keriput, tubuhnya yang dulu tinggi tegap kini mulai bungkuk, namun satu yang tak berubah dari Pak Hasna—supir setia keluarganya, adalah senyumnya yang seakan tak dapat lekang oleh waktu. “Non Ara sudah dewasa ya, sampai pangling Bapak”.

“Bapak masih di sini?” Ara melangkah mendekat, hak sepatunya menimbulkan bunyi nyaring yang memecah kesunyian. Menurut perhitungan Ara, Pak Hasna seharusnya sudah pensiun sejak lima tahun yang lalu.

Pak Hasna mengangguk, masih sambil tersenyum. Senyum yang menurut Ara tidak pantas didapatkannya. “Ibu sudah minta Bapak untuk pensiun dari lama, tapi kalau lihat Ibu, Bapak jadi nggak tega Non. Kasihan Ibu sendiri. Kalau Bapak pensiun, nggak ada lagi yang bisa mengantar Ibu kemana-mana”.

Ara terdiam. Pak Hasna baru saja melemparkan sebilah tombak ke hatinya dan Ara tidak berniat untuk mencabutnya karena ia merasa layak mendapatkannya. Kilasan memori memenuhi kepalanya, berganti-gantian dengan cepat, seperti potongan film yang difastforward. Di sini—di rumah yang hampir sepuluh tahun ia tinggalkan, banyak hal telah terjadi. Di sini ia memulai hidupnya dengan penuh tawa, namun di sini pula ia mengenal tangis yang tak pernah berhenti sepanjang malam. Saat Ayah meninggalkannya dan Ibu, saat Ibu menjadi depresi dan tak dapat mengurus dirinya sendiri, saat Ibu membawa seorang laki-laki dan menjadikan rumah ini bagai neraka bagi Ara, Ara tahu suatu hari nanti ia harus pergi. Dan ia melakukannya di ulang tahunnya yang ke-19, di malam saat ayah tirinya membuka pintu rumah dengan bau alkohol yang menyengat dan mulai memukuli ibunya.

Ara pergi. Ia tahu meninggalkan Ibu adalah pilihan terburuk dalam hidupnya, namun berada di rumah ini berarti menciptakan trauma dalam hidupnya lagi dan lagi.

“Maaf, Pak,” Setetes air mata jatuh membasahi pipi Ara. Ia tahu ‘maaf’ bukanlah kata yang cukup untuk membayar kesalahannya. Pak Hasna menggeleng lembut, seakan mengerti segala keputusan bodoh yang dibuatnya beberapa tahun lalu. “Dan terima kasih karena sudah menggantikan Ara menjaga Ibu”. Ara merasa pertahanannya runtuh, ia meluruh ke tanah bersamaan dengan segala penyesalannya yang mengalir deras. “Maaf,” Ia berbisik, meski ia tahu segalanya sudah terlambat. “Maaf, maaf, maaf”.

“Non Ara,” Ara merasakan sebuah pelukan hangat membungkusnya. “Nggak ada yang perlu disesali. Tahu apa yang Ibu bilang sebelum pergi? Ibu bangga sama Non Ara, Ibu bersyukur Non Ara bisa tumbuh dengan baik di luar sana, bahkan bisa sampai kerja di Amerika. Waktu tahu Non Ara jadi pembawa berita di sana, Ibu langsung pasang parabola, katanya mau lihat Non Ara siaran. Sampai hari terakhirnya, TV ibu nggak pernah mati loh, soalnya Ibu nggak pernah tahu kapan Non Ara akan siaran lagi”.


Ara merasa sekujur tubuhnya bergetar semakin hebat. Ia merindukan Ibu. Ia berharap dapat memutar waktu, ia ingin kembali bertemu Ibu, memeluknya, meminta maaf, menghabiskan waktu satu hari lagi bersamanya, dan mengubah segalanya.


picturetakenfrom:pinterest.com

Thursday, May 14, 2015

until we try

“You must help him,” a friend of mine asked me. Her eyes were all gleaming with tears. For a brief moment I was stunned. Staring at her. Don’t know what to say. I have no idea if I can help him. I never have any idea that I can help him.

“You must help him,” she said it again. Twice. Begging this time. “Please”. I was still in my silence.

Maybe, I thought. Maybe too often we are just don’t realize things that we’re capable of. The truth that we can make a change. Maybe we are just sitting there all this time, waiting for something to happen. But, we don’t realize, that that something maybe won’t happen if we don’t make it happen.

Maybe we think that we are too tiny to make a difference, that we are powerless, incompetent, or too incapable to stand any chance. But the truth is we don’t know anything.
Not a single thing.
Until we try.
To make a change.


A difference.

Monday, May 11, 2015

those days

Tirsa menatap seragam putih abu-abu yang tergantung di pintu lemari kamarnya. Ia menyentuhnya dengan ujung-ujung jari, merasakan lembut dan dinginnya kain menyentuh kulitnya. Ia akan merindukan saat-saat itu, hari-hari dimana ia harus berlomba dengan jarum pendek yang bergerak menuju ke angka tujuh setiap pagi, hari-hari dimana ia harus berkutat dengan deretan angka dan rumus yang bahkan ia tidak tahu gunanya, hari-hari dimana hal yang dikhawatirkannya hanyalah tugas dan ulangan untuk keesokan harinya.

Tirsa tersenyum tipis. Semua itu kini usai.

Ia tidak akan menunggu-nunggu bel yang akan berbunyi setiap 45 menit lagi. Ia tidak perlu lagi buru-buru memasukkan kemeja putihnya yang keluar saat akan berhadapan dengan guru piket. Tidak akan ada lagi ujian matematika yang sanggup membuat siapa pun sakit perut. Tidak akan ada lagi dongeng dari guru sejarahnya yang sanggup membuatnya tertidur di Senin pagi.

Ia akan merindukan hari-hari itu. Rutinitas yang ia pikir selalu ia benci, namun tanpa sadar telah membuatnya jatuh cinta. Teman-teman dan sahabat yang bertumbuh bersamanya, orang-orang yang selama tiga tahun berbagi tawa dan air mata bersamanya.

Ia akan merindukan Vanya, sahabat yang mengetahui segala ceritanya—bahkan hingga yang tergelap sekali pun. Ia akan merindukan Gory, orang yang selalu dapat ia ajak ‘gila’ bersama, mulai dari mengerjai teman hingga guru-guru paling killer di sekolah mereka. Ia akan merindukan Veska dan Tanya, dua perempuan yang selalu menjadi sumber gosipnya, teman yang selalu dapat ia datangi jika ia butuh bantuan saat pergi ke pesta. Ia akan merindukan Glen yang selalu menghabiskan makanannya di kantin, atau bahkan Viory, saingannya dalam memperebutkan peringkat satu. Dan tentu saja, ia tidak akan melupakan Toby, orang yang membuat lembaran pertamanya di SMA menjadi semanis gula kapas.

Tirsa tidak akan pernah melupakan momen-momennya dengan Toby. Debaran pertamanya saat cowok itu untuk pertama kali mengirimkan pesan singkat kepadanya. Wajahnya yang terasa panas saat mereka asik berbincang di tengah pelajaran fisika dan ditegur oleh guru. Perasaan  senangnya saat mereka berdua dihukum membersihkan lapangan bersama sebelum sekolah dimulai. Dan tentu saja, rasa sakit hatinya saat ia mengetahui bahwa Toby menyukai Viory.

“Tirsa!” Sebuah ketukan di pintu membuat Tirsa menoleh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis yang tiga tahun lalu baru memakai seragam putih abu-abu kini memakai terusan krem selutut yang tampak manis.


“Iya, Van!” Tirsa menyunggingkan seulas senyum sebelum berbalik. Ini adalah malam terakhirnya bersama teman-teman SMAnya, malam terakhir sebelum mereka berpisah mengambil jalan masing-masing. Ia sedih, namun ia bahagia pernah mengenal mereka satu per satu. Dan ia akan bersulang untuk itu malam ini. Untuk segala rasa manis dan pahit yang pernah mampir di hatinya. Untuk segala debaran dan sakit hati yang pernah ia terima. Ia bersyukur untuk segalanya.

picturetakenfrom:pinterest.com

Sunday, May 10, 2015

the reason why

“Kayaknya gue udahan deh,” Windy menghela napas berat sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kantin kampus.

“Apanya?” Rei yang sejak tadi menekuni makanannya mendongak saat sahabatnya datang dengan wajah kusut.

“Gue sama Kevin, kayaknya kami udahan deh”.

Really?” Rei mengangkat kedua alisnya. “After these eight years?

After these eight years.” Ulang Windy,”What’s so glorious about eight years? Orang-orang bilang gila gue pacaran awet banget. But sometimes things don’t just work out and we have nothing to do about it”.

“Elo nggak mau coba memperjuangkan lagi, Win?”

“Elo pikir gue nggak mikir sejuta kali sebelum bilang kayak gini? Delapan tahun, Rei. Delapan. Elo pikir apa yang gue sama Kevin udah coba lakuin untuk hubungan kami?”

Rei terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

“Cinta itu bukan hitung-hitungan di atas kertas, Rei”.

Tepat saat itu, ponsel Rei berbunyi, dan laki-laki itu tersenyum tipis saat melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya. “Gue tahu,” Rei menjawab sekenanya.

Oh tentu saja, Rei adalah salah satu orang yang paling tahu hal itu. “Mia?” Tebak Windy. Karena kalau cinta adalah hitung-hitungan di atas kertas, Rei tidak akan bersama Mia saat ini.

Rei mengangguk. Ia memperlihatkan foto makanan yang baru saja dikirim Mia kepada Windy.

“Masuk rumah sakit lagi?” Windy melihat sticker yang tertera di bawahnya. Mia tentu saja tidak suka makanan rumah sakit.

“Udah dari tiga hari lalu,” jawab Rei. “Habis ini gue mau ke sana. Mau ikut?”

“Boleh, udah lama gue nggak ketemu Mia,” Windy mengangguk. “Tell me, Rei. Apa yang membuat lo nggak pernah ninggalin Mia?”

“Elo tahu gue sempat berpikir untuk nyerah berkali-kali,” Rei memutar bola matanya.

“Tapi lo nggak pernah benar-benar ninggalin dia”. Windy menatap Rei. “Apa yang membuat lo bertahan? Mia bukan orang yang bisa lo ajak jalan-jalan kemana pun lo mau, dia bukan orang yang bisa nonton pertandingan futsal lo dan nyorakin lo dari pinggir lapangan. Mia bukan orang yang bisa lo ajak naik gunung sesuai dengan hobi lo, dia bahkan nggak bisa lo ajak berdesak-desakan di tempat umum.”

Rei mengaduk es jeruknya dengan tatapan menerawang. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. “Berada di samping Mia nggak pernah mudah, Win. Melihat Mia berjuang melawan lupusnya selalu semakin sulit setiap hari. Dan seperti yang elo bilang, lupus membuat Mia nggak bisa melakukan banyak hal. Kami nggak pernah kencan di luar ruangan siang-siang karena Mia nggak bisa kena panas matahari, gue nggak bisa ajak dia nonton konser yang mau gue tonton, dan masih banyak lagi. Iya, kadang gue iri dengan pasangan lain, kegiatan kami begitu terbatas. Iya, kadang gue kesal Mia nggak bisa diajak capek dikit. Dan iya, sering banget gue mikir bahwa mungkin lebih baik gue sama Mia udahan aja. Toh, Mia juga minta putus saat pertama kali dia tahu dia kena lupus. Kami baru pacaran, dan kehidupan setelah pacaran pasti akan lebih sulit. Mia bilang kami mungkin nggak akan punya anak, dan gue dia juga nanya apa gue siap nemenin dia yang sakit-sakitan seumur hidup.”

Windy menunggu Rei melanjutkan.

“Tapi di saat gue pengen banget nyerah, kehidupan tanpa Mia lebih menakutkan buat gue. Karena rasa es krim yang gue makan nggak akan semanis dulu lagi, dan musik yang gue dengar nggak akan seindah saat gue mendengarnya dengan Mia. Lagi pula, gue bisa ngebayangin Mia akan melakukan hal yang sama kalau keadaannya terbalik. Ingat saat SMA dulu, waktu tangan kanan gue patah? Mia tiap hari datang ke kelas gue untuk nyalinin catatan gue selama tiga bulan penuh.”

“Walau kadang ngomel dan minta traktiran,” Celetuk Windy sambil tersenyum nostalgis. Ia tahu sahabatnya memilih orang yang tepat, walau sebagian orang tidak melihatnya demikian. “Menurut lo kalian akan menikah?”


Rei mengangkat bahu. “Perjalanan gue dan Mia masih panjang. Gue tahu dia bisa hidup seperti orang normal selama ia berobat dengan baik. She’s Mia after all. Tapi hubungan kami juga nggak akan mudah, dan gue nggak tahu apa yang akan kami hadapi nantinya. Seperti yang lo bilang, cinta bukan hitung-hitungan di atas kertas. Tapi untuk sekarang, gue hanya ingin di sampingnya—di saat ia paling membutuhkan gue dalam hidupnya. Gue ingin berjuang bersama Mia. Gue rasa itu cukup”.


What are words
If you really don't mean them
When you say them

What are words
If they're only for good times
Then they're done

Every single promise I'll keep
Cause what kind of guy would I be
If I was to leave when you need me most

I'm forever keeping my angel close

-What Are Words

picturetakenfrom:pinterest.com