Thursday, July 21, 2016

mendung bulan Juli

Dalam ingatan Diara, Juli tidak pernah sesendu ini sebelumnya. Cuaca yang berangin, langit yang mendung. Ia merapatkan cardigan abu-abu yang menyelimuti tubuhnya, matanya mengikuti daun-daun kecoklatan yang melayang ditiup angin sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Diara selalu mengingat hari ulang tahunnya sebagai hari yang cerah, hari dimana kebahagiannya selalu disinari matahari tengah tahun.

“Udah lama?” Sebuah suara membuatnya menoleh.

Diara menggeleng, ia menatap wajah yang telah lama ditunggu-tunggunya. “Hai, Al”.

Happy birthday to the sweetest girl on earth,” Alec mengecup pipi Diara cepat, lalu menyerahkan satu buket bunga yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.

Hydrangea biru muda, hydrangea putih, mawar putih, dan baby’s breath. Diara menatap karangan bunganya dengan takjub. Karangan bunga yang persis sama seperti yang selalu ia minta dengan merengek-rengek kepada Alec. Diara meremas buketnya lebih keras, berusaha menahan keinginannya untuk memeluk Alec.

It takes a goodbye to make you give this to me, huh?” Diara menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. Mereka kini berada di sisi luar Caftee & Bun, tempat dimana mereka dapat menikmati udara sore tanpa harus diganggu oleh hiruk pikuk di dalam kafe.

Alec menatap sepatu 3-stripes putihnya. Tembok pertahanan yang susah payah ia bangun sejak penerbangan dari Houston hingga ke Jakarta runtuh seketika. “I’m sorry that I’ve to ruin your birthday”.

I can’t forgive you for that,” Diara tertawa kecil, ia berusaha memfiksasi tatapannya pada Alec. “Kamu tahu? Selama tiga tahun terakhir aku selalu menantikan bulan Juli lebih dari apapun, bukan karena Juli adalah bulan ulang tahunku, tapi karena aku tahu kamu akan pulang. You promise me you’ll be home on my birthday”.

Alec diam. Ia tahu kata-katanya tidak akan memperbaiki apa pun. Ia tahu Diara berhak marah padanya, tapi bukannya memakinya, gadis itu malah memberinya senyum termanis yang ingin diingatnya sebelum ia meninggalkan gadis itu. Kamu jahat, Diara.

Can’t we try to fix this?” Alec mengangkat wajahnya.

Diara menggeleng, berharap Alec tidak bertanya sekali lagi, karena, ‘ya’, demi apa pun ia rela melakukan apa pun untuk bersama Alec lagi. Ia tidak ingin melepaskan laki-laki itu, walau ia tahu mereka akan gagal lagi dan lagi. Mereka tetap akan berjalan di tempat yang sama. Berdiri stagnan dan tak bergerak. Suatu hubungan tidak seharusnya diam di tempat.  It won’t work between us”.

It won’t work between us,” Alec setuju. Ia tahu itu, tapi melepaskan Diara—gadis yang selama tujuh tahun ini mengisi hari-harinya, rasanya lebih menyakitkan dari yang dibayangkannya. Rasanya seperti merelakan separuh tubuhnya untuk mati. Rasanya seperti melanjutkan hidup dengan setengah denyut yang tersisa. Ia tidak tahu apa ia dapat melakukannya.

Thank you, Al, for being a great boyfriend,” Setetes air mata jatuh di pipi Diara. Angin yang bertiup semakin kencang membuat tubuhnya bergetar. “I never regret a single day when I was your girlfriend”.

Alec mengangguk. Ia merengkuh Diara dalam satu gerakan yang tak terelakkan oleh gadis itu.


I love you, Di”.

picturetakenfrom:pinterest.com


Sunday, July 3, 2016

Be better.

At one point in your life, people will start questioning you. They will start asking you the reason why. Why did you do that? Why did you leave? Why did you stay? Why do you choose her? Why did you let go? Why didn’t you take the chance? Why did you go for it? Why do you love him? Questions like that.

And as you answer them, some of them will start judging you. Why did you do that? It’s so funny, it doesn’t make any sense, you did wrong, it’s not okay, you surely are in need for help, it’s ridiculous, you’re pathetic. Something like that. They will start looking at you, laughing at you, talking about you behind your back.

But you know what, you don’t have to listen to the negatives. If it doesn’t help you to be a better you, ignore it. But if it does help you, hang a little on, and be better though it’s very painful.

And the most important thing of all, don’t do the same to others. Don’t judge them. Instead, understand them. Cause this world is already full of people who judge, and what it needs is people who understand.


Be better.

picturetakenfrom:pinterest.com

Thursday, June 16, 2016

the forgotten happiness

A month ago I decided to watch a movie with a friend. We went to a cinema, but because the schedule didn’t suit our time, we decided to cancel it. Since we’ve already at the mall and we had nothing to do because our original plan is to watch the movie, we decided to stop by at a game arcade to kill our time.

I remember when I was a kid, the game arcade is one of the most crowded place on weekend. It’s like all family, all couples—young and old, kids, teenagers, and adults, they were ready to packed themselves at that place. But now, it’s barely empty. The game arcade is now just a forgotten place.

It struck me on my mind, that we might have loss a lot of things. Like the forgotten game arcade, we forget so many things in our life. We forget the joy of waiting. I remember the moment when I was standing in the line with my sisters—waiting for our turn to play the game. How we commented the person who was playing—said that we can do better, then when it was our turn, it was really exciting. We tried to score the best and earned as many as tickets.

The tickets.

Back then when the tickets hadn’t change to the virtual form, they were so precious. I remember when we collected them every time we played, then one day, when we thought they were quiet a lot, we would took the tickets to exchange them with goods. Dolls, trinkets, notebooks, pencil case, we tried to share so everyone will get what they wanted. It was really delightful. Even a tiny eraser or a small hairpin felt so precious back then when it came from the tickets exchange. It was a result of hard work of an eight-year-old girl, and she savored it so much.

Look how much we’ve forgotten in these super speedy days. We forget the art of waiting—the joy of taking a little at a time. The joy of sharing your hard work. The pleasure to cherish every tiny bits of your effort.

It’s just like the ticket that is changed to the virtual form; I think our happiness nowadays is also based on virtual thing. Like how many likes you get on Instagram, how many loves you get on Path, and they ridiculously affect our happiness. Doesn’t it a little bit sad?

Embrace your moment. Savor every minute you spend with your love one. Laugh hard. Forget the flat screen on your hand. Talk a lot. Share the joy. Make some memories. Live the moment, not the ‘likes’ from other people.


And don't forget. Be happy :)
picturetakenfrom:pinterest.com

Tuesday, April 26, 2016

inner peace

“So, you’re not born in a Catholic family?”

“Nope”.

“Then why’d you become a Catholic?”

“I don’t know. It’s just I find my peace at church. Whenever I have a problem, I find that it is more comforting to sit in silent and pray; it is putting me at ease. Silly, huh? Choosing a religion for reasons like that”.


“No, I think it is not silly. It’s simple. And sincere. A genuine reason that people forget these days—to become comfortable in our own home.”

📷:pinterest.com

Wednesday, April 20, 2016

a moment with you

“Ck, hujan,” protes Alex di sebelah gue diikuti dengan umpatan-umpatan yang biasa dilontarkannya. “Nggak bawa payung lagi gue”. Gue berjalan di sebelahnya menuju lobby sekolah tanpa komentar, di luar sana kilat dan petir bergantian meramaikan langit yang gelap, hujan deras turun tanpa ampun. Beberapa anak mengeluh karena mereka datang ke sekolah dengan berjalan kaki atau naik motor, sebagian lagi bersyukur karena mereka pulang dengan mobil. Gue sendiri bersyukur karena tadi pagi Ibu memaksa menyelipkan sebuah payung kecil di ransel gue.

“Sialan, baru cuci mobil juga gue kemarin sore,” Alex melanjutkan keluhannya, sementara sudut mata gue menangkap sosok yang familiar sedang berdiri di undakan terakhir lobby.

Kaira. Gadis berambut hitam sebahu itu bergeming menatap tirai hujan yang berjarak kurang dari sepuluh senti dari wajahnya. Ia mengigit bagian bawah bibirnya, matanya terlihat muram.

“Eh, lo mau pake payung gue, Lex?” Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala gue.

“Lo nggak mau pulang?” Alex menatap gue curiga.

“Gue baru inget masih harus nyelesaiin kerjaan OSIS dulu. Paling nanti juga udah redaan hujannya”. Gue mengeluarkan payung biru navy dari rasnel gue dan menyodorkannya pada Alex.

“Bener nih? Gue nggak sungkan-sungkan loh,” Alex mengambil payung gue.

Gue mengangguk yakin.

“Oke deh,” Alex mengangkat bahunya dan tersenyum lebar, mendadak air mukanya menjadi lebih cerah. “Thanks, Bro!” Ia melangkah lebar-lebar menerjang hujan sambil mengembangkan payung meninggalkan gue.

Gue mendekati Kaira setelah Alex menghilang di ujung jalan. “Oi,” sapaan gue membuatnya menoleh. “Nggak bisa pulang ya?”

Kaira mengangguk, rambutnya yang tergerai sempurna di punggungnya bergerak naik turun, membuat gue membayangkan bagaimana rasanya jika dapat membelai rambut itu.

“Nggak bawa payung,” suaranya terdengar kecewa, membuat gue setengah menyesal telah meminjamkan payung gue untuk Alex. Tapi kalau gue minjemin payung gue ke Kaira, gue nggak bisa lama-lama nemenin dia nungguin hujan reda, dong.

“Emangnya ada urusan yang urgent banget sampai harus buru-buru pulang?” Gue berusaha menyembunyikan sebersit rasa bersalah gue karena telah mencuri waktu untuk dapat bersama Kaira.

“Tokonya tutup jam enam sore,” Kaira melirik jam tangannya, gue impuls melakukan hal yang sama. Pukul lima lewat lima menit, pelajaran tambahan untuk anak kelas 12 yang mau UAN memang luar biasa menyebalkan dan menyita waktu.

“Apanya yang tutup jam enam?” Gue menoleh ke arah Kaira, ingin menikmati wajahnya lebih lama, menghirup aroma parfumnya lebih dekat—aroma buahnya yang segar membuat gue ketagihan.

“Toko bunga di dekat. Hari ini hari pernikahan bokap nyokap gue, tadinya gue mau mampir dulu beli bunga, tapi kalau hujannya sederas ini kayaknya mustahil sebentar lagi berhenti,” Kaira menjelaskan dalam satu tarikan napas, suaranya bergetar, terdengar kecewa sekaligus kesal. Gue merasa sebentar lagi air mata akan meluncur turun membasahi pipinya.

“Gue tau kok toko bunga yang tutup lebih malam. Emang agak jauh sih, tapi masih bisa ditempuh jalan kaki. Kalau lo mau nanti gue temenin beli, deh”. Gue menawarkan.

Kaira menoleh. Senyumnya merekah seperti sinar mentari yang menyeruak di antara awan mendung. Manis. Cantik. “Beneran?”

Gue mengangguk, mau tak mau ikut tersenyum melihatnya.  

“Wah, makasih banget! Elo emang penyelamat deh!” Kaira nyaris melompat ditempatnya.

Gue tergelak. Bahagia melihat Kaira sesenang itu.


Hei, Kaira, kalau ada kesempatan lain, boleh kan kita menghabiskan waktu berdua kayak gini lagi?

picturetakenfrom:pinterest.com