Friday, September 14, 2012

In A Conversation: #Angry


“Elo marah sama dia?”

“Iya. Banget.”

“Emang apa sih masalahnya?”

“Ya gitu deh. Pokoknya dia nyebelin banget.”

“Dia tahu?”

“Tahu lah”.

“Maksud gue, dia tahu alasan elo marah?”

“Ya harus dong! Orang dia yang salah juga”.

“Bisa aja kan dia nggak sengaja nyakitin lo? Bisa aja dia nggak sadar udah berbuat salah”.

“Maksudnya dia nggak bermaksud nyakitin gue?”

“Iya. Kalau gue sih, gue paling takut udah nyakitin orang tanpa gue sadar. Dan tau-tau aja hubungan gue ama orang itu jadi rusak”.

“Jadi gue mesti jelasin ke dia? Capek ah. Ngeliat aja udah males”.

“Menurut gue sih, nggak adil kalau seandainya elo marah dan orang yang jadi sasaran kemarahan lo nggak tahu duduk perkaranya. Gimana dia mau minta maaf kalau dia nggak tahu dimana salahnya? Lagian bisa aja ini semua cuma miskomunikasi atau salah paham kan? Gimana masalahnya mau kelar kalau kalian nggak ngomong? Anger doesn’t solve anything, conversation does.”

Be Grateful


Setelah dua tahun lebih kuliah kedokteran, saya berkesimpulan: ‘saya belum bisa apa-apa’. Kadang-kadang saya suka bingung dan bertanya-tanya sendiri ‘apa aja sih yang udah saya pelajari?’ Pada kenyataannya mendiagnosis nggak semudah yang dibayangin. Menyingkirkan diagnosis satu per satu untuk mendapat sebuah diagnosis yang pasti itu nggak gampang. Butuh latihan. Dan karena saya belum masuk ko-ass, latihannya tentu saja hanya sebatas soal di atas kertas—nggak ada apa-apanya dibanding berhadapan langsung dengan pasien.

Lalu, kalau sudah tahu diagnosisnya, obatnya apa? Apa yang bisa kita lakukan? Gimana cara menghadapi pasien dengan segala kekhawatiran mereka? How can I save their lives?
Dan saya akan selalu kembali kepada pertanyaan yang sama, ‘apa sih yang udah saya pelajari? Apa yang saya dapat selama dua tahun ini?’

Kalau mau jujur, selama dua tahun ini saya belajar tentang sederetan penyakit masing-masing dengan faktor risiko, epidemiologi, gejala, patofisiologi, cara diagnosa, dan terapinya.

Yang saya dapat?
Parno.

Dan untungnya, saya dapat satu hal lagi.
Lebih banyak bersyukur. Salah satunya adalah karena ini:

Saya selalu kagum ketika mempelajari siklus kehidupan manusia. Bagaimana seseorang diciptakan dengan cara yang begitu ajaib, rumit, sekaligus menakjubkan. Nggak mudah bagi sebuah sperma untuk bertemu dengan ovum, dan ketika itu sudah terjadi, ada serangkaian tahap yang masih harus dihadapi oleh calon individu. Ketika belajar, saya jadi tahu bahwa ada terlalu banyak hal yang bisa menjadi salah dalam pembentukan seorang manusia. Ada terlalu banyak celah untuk kesalahan tercipta, dan kita sebagai manusia, terlalu rapuh untuk bisa mencegahnya.

Jadi kalau hari ini kita bisa hidup, bersyukurlah. Karena kejadian kita bukan sebuah kebetulan. Dan kalau kita terlahir tanpa cacat, bersyukurlah. Karena percaya deh, ada banyaaaaak banget kemungkinan bagi kita untuk terlahir tidak sempurna.

For you created my inmost being;
  
you knit me together in my mother’s womb.
I praise you because I am fearfully and wonderfully made;
your works are wonderful, I know that full well.
My frame was not hidden from you
when I was made in the secret place,
when I was woven together in the depths of the earth.
Your eyes saw my unformed body;
all the days ordained for me were written in your book
before one of them came to be.
How precious to me are your thoughts, God!
How vast is the sum of them!
Were I to count them,
they would outnumber the grains of sand—
when I awake, I am still with you.

Monday, September 10, 2012

Bayang-bayang Miya


Nicholas Grey selalu tahu sahabatnya tidak akan bertahan lama. Matanya bisa melihat itu,—bayangan yang mulai mengabur dari orang-orang yang waktunya hampir habis di bumi. Kemampuan yang lebih dianggapnya kutukan daripada anugerah.

“…Nik, Niko,” Miya menggucang lengan sahabatnya,”Nicholas Grey Putra!”

“Ya?” Niko menjawab sekenanya, ia melirik sekilas gadis yang terbaring dengan selang infus di sebelahnya. Lidah Jepang-Amerika Miya memang nggak pernah cocok menyebut nama belakangnya yang sangat Indonesia.

“Berhenti ngelakuin itu, Niko,” tegur Miya galak. Matanya bersinar penuh semangat, suaranya terdengar lantang, sama sekali nggak terlihat seperti orang sakit.

“Ngelakuin apa?”

“’Melihat’ bayang-bayang gue,” Miya memutar bola matanya, selain wajah orientalnya yang nampak pucat, tubuh gadis itu nampak segar bugar. Kalau saja Niko tidak berpuluh-puluh kali menyaksikan gadis ini mengalami serangan dan kolaps, ia tidak akan percaya pada apa yang dilihat mata batinnya. “Gue bosen dibacain terus. Hari ini apa? Seberapa tipis bayangan gue? Berapa lama lagi gue hidup? Berhenti mencari tahu semua itu, Nik. Gue nggak peduli.”

“Tapi, gue peduli,” rahang Niko mengeras. Ia pertama kali bertemu dengan Miya empat tahun lalu, kelas 3 SD, saat dihukum menjalani kegiatan sosial dari sekolah gara-gara bolos selama tiga hari berturut-turut. Queency Hospital memang sudah jadi langganan tetap sekolahnya mengirimkan murid-murid mereka untuk melakukan tugas sosial. Dan hari itu, Niko ditugaskan ke bangsal anak untuk menemani seorang gadis kecil sebayanya yang hendak menjalani operasi tumor otak.

Niko ingat saat itu Miya menyambutnya dengan ceria, dengan senyum yang sanggup membuatnya lupa betapa ia membenci tugasnya hari ini.

“Kamu ngelakuin apa sampai dihukum ke sini?” itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Miya. Terlalu sering keluar masuk rumah sakit, membuatnya jadi terbiasa dengan anak-anak seperti Niko yang menemaninya sepanjang hari.

“Bolos,” jawab Niko singkat, bersyukur ternyata gadis berwajah Jepang ini fasih berbahasa Inggris,“Kamu sakit apa?”

“Brain tumor,” Miya nyengir tatkala menunjuk kepala botaknya,”Baru dicukur kemarin. Operasinya besok pagi”.

Niko mengerjap sejenak. Gadis cilik di hadapannya ini menceritakan penyakitnya seperti mengatakan menu makan siangnya. “Kamu nggak takut?”

“Takut apa?” alis Miya bertaut, seolah kata itu tidak pernah ada dalam kamusnya.

“Mati,” Niko berkata lugas, nggak peduli akan membuat gadis dihadapannya ini sedih. Toh, mereka tidak akan bertemu lagi setelah hari ini.

“Kata dokter, aku akan dibius, nggak akan merasa apa-apa. Berhasil atau nggak, mati atau hidup, aku nggak akan merasa sakit. Jadi, untuk apa takut?”

“Kamu nggak takut kehilangan orang tua kamu?”

“Tentu saja aku akan sedih. Tapi, mereka bilang kami akan bertemu lagi nanti. Mereka bilang, nggak apa-apa untuk pergi saat aku memang sudah nggak kuat”.

Niko tercenung mendengar penuturan jujur tersebut. Di akhir hari itu, sebelum mereka berpisah, ia memberanikan diri untuk mengintip bayang-bayang Miya.

Niko nggak pernah berharap bisa bertemu dengan Miya lagi setelah hari itu. Bayang-bayang Miya adalah bayang-bayang tertipis yang pernah ia lihat—seolah gadis itu bisa pergi detik itu juga di depan matanya.

“Gue peduli,” Niko menegaskan kembali, teringat pertemuan mengejutkan mereka di kafetaria rumah sakit sebulan kemudian. Niko nyaris percaya kalau ia sedang melihat hantu, kalau saja Miya tidak menepuk punggungnya bersahabat. Sejak saat itu mereka berteman akrab. Menghabiskan waktu bersama. Saling berbagi rahasia. “Gue peduli tentang berapa lama lagi elo bisa hidup, sampai kapan elo bisa bertahan, bagaimana elo menghabiskan sisa hidup elo. Kalau lo nggak mau peduli tentang semua itu, gue yang akan peduli”.

Miya tersenyum tipis, ia akan merindukan saat-saat adu mulut seperti ini kalau ia mati nanti. “Elo selalu bilang kemungkinan gue untuk hidup kecil kan? Dari dulu, kalau elo melihat bayang-bayang gue, elo selalu bilang waktu gue nggak lama lagi kan? Tapi apa yang terjadi sekarang? Gue masih di sini. Tumornya masih ada dan akan selalu tumbuh di kepala gue, sementara gue tetap hidup. I survive. Many times. Gue jauh lebih beruntung dari ibu-ibu yang nggak sengaja lo liat bayangannya di Grand Avenue dan sedetik kemudian mati tertabrak mobil. Gue jauh lebih beruntung dari anak lima tahun dengan kelainan jantung yang kita jenguk bulan lalu. Bukannya gue nggak percaya dengan kemampuan lo, tapi gue sadar apa yang lo lihat bisa berubah. Elo bisa mengubahnya—atau paling nggak berusaha mengubahnya. Makanya gue selalu bilang you’re gifted, Nik.”

Niko tahu semua yang dikatakan sahabatnya benar. Miya selalu punya sesuatu yang nggak pernah dimilikinya sejak dulu—kemampuan untuk bersikap positif dalam kondisi apa pun.

“Everybody dies anyway,” Miya berkata ringan,”Dalam kasus gue, gue cuma lebih dekat aja sama kenyataan itu. Di mana dan karena apa gue akan meninggal, cuma Tuhan kan yang tahu? Bahkan elo nggak akan bisa melihat itu”.

“Even a death predictor needs God, huh?” Niko tersenyum muram.

“Everybody needs God,” Miya tersenyum ke arah sahabatnya,”And… someone to hang on in the worst of their life”.

“Stop,” Niko mengangkat sebelah tangannya, tahu kemana pembicaraan ini akan mengarah, ia paling malas kalau Miya sudah mulai melankolis seperti ini.

“Thanks for being my best friend,” Miya tertawa kecil.

“Gue bilang stop. Jangan ngomong seolah kita nggak bakal ketemu lagi,” Niko menjitak kepala Miya pelan.

“Siapa yang mulai ngintip-ngintip bayangan orang seolah-olah kita nggak bakal ketemu lagi?” balas Miya.

“Miyako Ried…” Niko berseru gemas.

“Hahaha… Easy, Nik. It’ll be another day I conquer, trust me,” Miya mengacungkan jempolnya.

Niko mengangguk. Miya yang dikenalnya selalu seperti ini, memilih menghibur orang alih-alih dihibur, tertawa daripada menangis. Tapi yang paling Niko suka dari sahabatnya adalah, ia selalu lebih memilih menang alih-alih kalah.

picturetakenfrom:weheartit.com

Sunday, September 9, 2012

The game of life


Hidup itu menakjubkan ya. Nggak bisa ditebak. Lucu. Aneh. Ajaib.

Buat saya, hidup bergerak dengan caranya sendiri. Berubah dengan ritme yang nggak pernah kita duga, dan pada suatu titik kita akan berhenti, menoleh ke belakang, dan menyadari: life sure does go on.

Banyak yang berubah. Dan nggak jarang, perubahan-perubahan itu adalah sesuatu yang nggak pernah kita duga. Nggak pernah kita bayangkan.

People change. Hal ini paling saya rasakan selepas SMA. Setelah berhenti bertemu dengan teman-teman yang biasa saya temui sehari-hari. Setelah tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktu dengan mereka. Saya masih merindukan hal-hal itu—bertumbuh bersama mereka, melakukan kesalahan dan hal-hal bodoh bersama. Mungkin dulu mereka juga berubah, tapi karena selalu bersama, saya jadi nggak ngeh dengan perubahan itu. Yang saya tahu sekarang, mereka berubah, kebanyakan jadi lebih hebat di mata saya. Lebih dewasa. Lebih serius. Lebih giat mencapai cita-cita mereka.

Bahkan teman saya yang paling ngaco sekali pun sekarang punya pencapaiannya sendiri. Hebat, buat saya. Dan aneh. Rasanya baru kemarin kami memakai seragam yang sama, tertawa bersama, dan sekarang dia udah jadi ‘orang’.

Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Hal-hal apa lagi yang akan berubah. Orang yang kita ketawain kemarin, bisa aja nantinya jadi jauh lebih berhasil dari kita.

Anyway, life is a fun ride. Enjoy all the ups and downs, even when you can’t see the track clearly. Hidup itu perjuangan—perjuangan yang menyenangkan. Hidup itu seru!

Friday, September 7, 2012


Doctors spend a lot of time focused on the future, planning it, working toward it. But at some point you start to realize your life is happening now. Not after med school, not after residency, right now. This is it. It's here. Blink and you'll miss it.

Just watch the final episode of Grey’s Anatomy 5 on Sony TV. Oh my, among all of the episodes of Grey’s Anatomy, I love season five’s the most. The season when Alex and Izzie together, the season where there are so much emotions in it: the joy, tears, courage, happiness, friendship, trust, miracles, love, sacrifice, fear, hopes. It makes me cry and smile a lot.

Did you say it? 'I love you. I don't ever want to live without you. You changed my life.' Did you say it? Make a plan. Set a goal. Work toward it, but every now and then, look around; Drink it in 'cause this is it. It might all be gone tomorrow.