Monday, January 7, 2013

I Am Complete


A friend of mine told me that she begins this year with a resolution: to upgrade herself physically.

“It isn’t I’m uncomfortable with my body right now,” she told me, ”But we are living in a cruel world, dear. Everything starts from the eyes”.

I smiled at her, looking at her nearly-perfect-figure. Of course she was talking about boys. We were talking about boys before the sentence came out from her mouth.

I, myself, begin this year by being attracted by a guy whom I spent several days with. A boy that I told my friend I decided to forget for some reasons. It is not he likes me back anyway. Ha! But somehow this year begins with a highlight of relationship issue. My friends told me they want boyfriends, I told them the same, and suddenly it becomes the main topic. It’s like this is the year when we should worry about not having a boyfriend. I don’t know. Haha…

If you asked me what I want this year, of course the boyfriend thing would come up on my list. Like I need one this year. But somehow there is a voice inside my heart telling me that it is not what I need, it is just something that I want.

I believe there is something wrong with person who thinks that singleness means incomplete. But I still do think that way most of the time. I feel myself incomplete; while singleness must be means you can have the fullest of yourself on your own. And this is the resolution I make this year: to feel complete on my own, and it means to content myself with God.

It’s hard. Instead of praying ‘God, give me a boyfriend this year,’ I must learn to pray, ’God make me satisfied by You and only You’. 

Thursday, January 3, 2013

Eye Candy


You are such an eye candy
Too hard to resist
Too sweet to be tasted
The only thing I could do is admiring you

It’s ok to just watching you from far
It’s enough to sit side by side without talking
I’m happy just to see that smile of yours
And your voice? It’s intoxicating

But you’re just an eye candy
And like the other candies in the world
You won’t last anyway
Oh, you are such an eye candy

120 detik


“Arga punya gebetan baru!” teriakan Rey dari pintu kantor pagi itu menjadi pembuka hari yang pahit,”Namanya Danya Ramanta, cek aja facebook atau twitter-nya!”

Aku melengos malas dari bilikku, mengutuki kemajuan teknologi yang membuat proses PDKT dan stalking gebetan jadi semakin mudah. Lama aku menatap monitor di hadapanku, berusaha menahan jari-jari untuk mengetik nama yang baru saja ku dengar. Namun—seperti yang sudah aku prediksi sebelumnya, aku kalah. Siapa sih Danya-Danya ini? Cantik?

“Wah, masih kecil ya?” celetukan seseorang dari kubikel seberang memenuhi ruangan.

“Pedofil!” sambung yang lain. Seketika, seisi ruangan menjadi riuh.

“Beda empat tahun nggak bisa dikategorikan sebagai pedofil, tau!” kini Arga membela diri, tanpa melihat saja aku tahu mukanya sedang memerah. Aku terlalu mengenalnya. ”Lagian anak kuliahan kan udah bukan anak kecil lagi!”

Aku kembali berkonsentrasi pada layar di depanku yang kini menampilkan hasil pencarian mesin maha canggih. Google. Ketikan nama lengkap orang yang ingin kamu cari di sana, maka mesin itu akan memberikan seluruhnya untukmu. Semua. Tanpa privasi.

Nama Danya Ramanta tidak pasaran. Aku mengklik hasil pencarian pertama dan kedua—akun facebook dan twitter miliknya.

Danya. 20 tahun. Kuliah jurusan psikologi di salah satu universitas swasta ternama. Rambutnya ikal sebahu. Senyumnya manis dan kekanakan. Wajahnya polos tanpa make-up. Dari foto, kelihatannya ia tidak terlalu tinggi—setidaknya aku tidak mungkin kalah tinggi. Aku tersenyum kecut. Anak ini tidak ada apa-apanya dibanding wanita dewasa seperti aku atau rekan kerja Arga yang lain.


Aku membereskan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas. Hari ini terasa sangat panjang. Entah karena kerjaan yang menumpuk atau karena pembuka hari yang berhasil mengacak-acak isi hatiku. Aku menunggu. Memperhatikan pintu keluar. Saat sosok Arga melesat melalui pintu itu, aku menyusulnya.

So, it’s done, huh?” Aku berdiri bersisian dengannya di dalam lift. Kami berdiri berdampingan, sama seperti dulu, hanya saja kini kami berhenti saling menatap.

Yeah. It’s done.” Aku melihat pantulan bayangan Arga yang tersenyum tipis melalui pintu lift.

“Aku masih nggak bisa melupakan kamu,” aku rasa putus asa membuat seseorang memohon, persis seperti yang nyaris aku lakukan saat ini.

You don’t have to. Setiap waktu yang gue habiskan bersama elo adalah anugerah. Jadi, biarkan itu tetap menjadi kenangan manis”.

“Bagaimana caranya aku bisa rela kalau kamu bersikap baik seperti ini? Kamu kejam, Ga.”

Hate me, then. I deserve it ”.

We can’t fix this, can we?”

We can’t,” Arga menggeleng. “Gue harap bisa. Tapi kita nggak akan bisa bertahan. And we must to let go before we destruct each other.”

“Danya.” Aku susah payah melafalkan nama itu,”Dia nggak secantik aku kan?”

“Nggak,” Arga menjawab tegas, tapi matanya terlihat berbinar. Astaga, kamu benar-benar jatuh cinta, Arga. “Dia nggak secantik elo, nggak setinggi elo, nggak seputih dan se-classy elo, nggak pintar dandan kayak elo. Gue nggak tahu kenapa gue milih gadis seperti Danya, tapi untuk saat ini, gue ingin mencoba mengikuti kata hati gue”.

Aku memperhatikan angka di bagian atas pintu lift. 5 detik lagi dan konversasi ini akan berakhir. 3 detik lagi dan pintu di hadapan kami akan terbuka. 1 detik lagi dan aku tahu aku akan menghilang dari kehidupan Arga.

“Arga,” Aku berbalik menatapnya ketika pintu lift terbuka,”Good luck with her. Cherish her more than you cherish me. See you tomorrow, then. Goodbye.

Wednesday, January 2, 2013

2012


I hope it’s not too late to post about my life in 2012, since I can’t blog while I was on holiday in Thailand.

Well, what should I say? 2012 terasa cepat banget. Banget. Tapi kalau dipikir-pikir banyak juga kejadian seru, pahit, manis, dan tentu saja memorable di tahun 2012.

Let’s start with the worst part.
Tahun 2012 adalah tahun dimana saya sering sekali nangis. I hate to admit it, tapi tahun ini masalah terasa lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Entah itu kegagalan, kehilangan, perasaan kecewa, dan masih banyak lagi. But God is always good, saat saya berada di bawah selalu ada saja ‘malaikat-malaikat’ yang membantu saya. Dan saya bersyukur untuk itu.

Then, move to the fun part.
Tahun 2012 jadi tahun dimana saya banyak menulis, baik itu di blog maupun tulisan yang saya keep di laptop. Saya juga merasa banyak belajar tentang tulis menulis di tahun ini. Dan yang paling penting, tahun 2012 benar-benar jadi milestone perjalanan menulis saya. Yang pertama, karena cerpen saya sempat terpilih oleh Sitta Karina untuk dibuat e-book bersama cerpen miliknya. Dan yang kedua, karena naskah novel saya bisa diterima penerbit mayor.

Di Tahun 2012 juga saya merasa diberi kesempatan lebih untuk bersyukur. Mulai dari pelayanan, jadi pengurus di gereja, ikut berbagai kepanitian kegiatan gereja, lewat masalah-masalah, bahkan orang-orang di sekitar saya.

Tahun 2012 juga jadi tahun jalan-jalan paling menyenangkan! Tahun 2012 di awali dengan liburan di New Zealand, lanjut di pertengahan tahun ke Eropa (tujuan favorit saya!), awal November kemarin ke Singapura bersama teman-teman, dan akhir tahun ini ditutup dengan menyenangkan di Thailand. Dalam setiap perjalanan saya bersyukur bisa melihat hal-hal baru, bertemu orang-orang baru, dan saya selalu mengatakan pada diri saya, bahwa setiap pertemuan tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Dan saya senang dapat menutup tahun 2012 di atas kapal di tengah sungai Chao Phraya, menatap setiap letupan kembang api, sambil mengingat-ingat apa saja yang telah saya alami tahun ini. Life’s good.