Tuesday, August 14, 2012

Once Upon A High School


Found this on my old laptop:


And this:



Dan masih banyak lagi foto kayak begini yang mirip-mirip gayanya.
Hahaha. When did you guys take these? I have no idea at all. Kayaknya, ini foto-foto waktu kelas 12 ya? Tapi nggak inget pas kapan. Dilihat dari orang-orang yang udah pada bawa tas, mungkin waktu pulang sekolah. Tapi, kenapa masih ada yang sibuk banget di belakang? Dan di mana saya waktu itu?

Anyway, berarti udah dua tahun lebih berlalu sejak foto ini diambil. Waktu benar-benar berlari ya? Jadi kangen.

Saya kangen pakai seragam putih abu-abu. Kangen mengejar bel di pagi hari. Kangen dicek ikat pinggang dan pinnya tiap pagi. Kangen nyalin PR mat nya Otoy. Kangen berharap hari hujan waktu pelajaran olahraga (karena saya paling nggak suka pelajaran olahraga, tapi sekarang malah jadi kangen olahraga juga, paling kangen sama main basketnya—satu-satunya olahraga yang paling saya bisa, mungkin?)

Saya kangen ngerjain dan berdebat tentang sebuah soal sama sahabat saya. Kangen sekelompok sama orang-orang yang males kerja. Kangen membujuk Pak Heri untuk beberapa menit open book waktu ulangan sejarah. Kangen menghitung waktu sampai bel berbunyi. Kangen mendengar aba-aba ‘Siap! Beri Salam!’. Kangen membujuk guru-guru supaya ulangan cepat dibagikan. Kangen membenci ulangan matematika yang terlalu sering. Kangen takut ketinggalan topi, dasi, dan pin, saat upacara.

Saya kangen renungan pagi yang lebih sering ribut daripada tenang. Kangen ngasih contekan saat ulangan (ini sekalian pengakuan dosa). Kangen berharap Bu Sugi asyik cerita tentang hal lain selain pelajaran sampai bel berbunyi. Kangen menyibukkan Pak HT dengan berbagai keperluan kelas yang nggak penting supaya nggak membahas soal fisika. Kangen memprotes soal-soal ulangan Pak Boan. Kangen mengosongkan laci dari buku-buku saat akan diadakan razia.

Saya kangen dibuat pusing oleh soal-soal mafia. Kangen jam kosong di sekolah. Kangen kebaktian sebulan sekali. Kangen menyalin dan memanipulasi data saat praktikum. Kangen membuat larutan yang salah saat lab kimia dan buru-buru membuangnya sebelum ketahuan oleh Pak SL atau CS. Kangen mendengar lagu-lagu lama saat lab inggris. Kangen mengerjakan soal dari Pak PP. Kangen berharap tiap ada pengumuman dari radio sekolah bahwa isinya adalah pemberitahuan bahwa hari ini atau besok pulang lebih awal (kalau bisa diliburkan).

Saya kangen semuanya. Bahkan rutinitas sepulang sekolah seperti les di Surkit dan Pak Lucky.

Saya kangen.



Tapi, ini emang ada teman SMA saya yang baca?
Ha.ha. 

Sunday, August 12, 2012

A Reunion


It’s just another high school reunion that day. Dan kebetulan saya yang ngajakin mereka untuk ngumpul. Di tempat yang biasa juga, Central Park. Saya sama sekali nggak merencanakan acara apa-apa hari itu. Nggak nonton, nggak makan, nggak beli apa-apa juga, pokoknya ngumpul aja. Saat sahabat saya nanya ‘sebenarnya kita mau ngapain sih hari ini?’ saya menjawab tidak tahu, dan teman saya yang lain menjawab ‘no plan is the best plan’ :P

Dan jadilah hari itu jadi acara ngumpul-ngumpul paling nggak jelas yang pernah saya alami. Begitu sampai Central Park, saya menemani sahabat saya belanja bahan kue. Setelah selesai, kami berenam duduk di Nanny’s Pavilion. Makan pancake dan minum sebentar, sehabis itu kami memutuskan untuk karaokean. Sayang, karena bulan puasa, tempat karaoke baru buka malam hari. Jadilah kami berputar-putar nggak jelas di Central Park. Tidak lama kemudian satu orang teman kami menyusul, karena dia belum makan, jadi kami menemaninya makan. Saat ditanya mau makan di mana, teman saya menjawab mau makan di Nanny’s, jadilah kami kembali ke restoran itu. Duduk lagi di sana, sambil berharap pelayannya nggak ngeh kalau kami baru saja dari sana. Baru saja selesai menemani teman kami makan, saat kami keluar restoran, teman kami yang lain datang menyusul. Lagi-lagi mengajak makan, dan saat ditanya mau makan di mana, lagi-lagi jawabannya adalah Nanny’s. -___-

Hari itu benar-benar cuma dihabiskan di Nanny’s aja rasanya. Tapi, saya senang. Bukan karena Nanny’s nya, tapi karena kesempatan ngobrol-ngobrol yang sangat langka. Duduk berlama-lama disebuah restoran; berbincang-bincang tentang segala macam hal mulai dari yang serius sampai yang nggak jelas; catch up sama sahabat; momen seperti ini yang saya rindukan sekali. Dan saya jadi sadar satu hal.
Ternyata ngumpul-ngumpul tuh sama sekali bukan masalah ‘ngapainnya’ tapi ‘sama siapa’.
Itu jauh lebih penting. 

Friday, August 10, 2012

Cinta atau bodoh?


Kalau memaafkan orang yang melakukan kesalahan yang sama berulang kali
Memberi kesempatan kedua lagi dan lagi
Itu cinta atau bodoh?

Kalau terus kembali pada orang yang sama, sekalipun ia menyakitimu berulang kali
Kalau terus mempercayainya walau ia tidak dapat dipercaya
Itu namanya cinta atau bodoh?

Kalau tidak bisa melupakan suaranya, walau suara yang sama memakimu bertubi-tubi
Kalau selalu ingin memeluknya sekalipun ia sudah mendingin
Itu cinta atau bodoh?

Kalau selalu menantinya sekalipun ia tidak ingin kembali
Kalau selalu menyemangatinya walau ia tidak pernah mendukungmu
Itu namanya cinta atau bodoh?

Orang bilang cinta nggak butuh alasan. Apa bodoh juga butuh alasan? Jadi apa cinta itu bodoh?

Thursday, August 9, 2012

Now, and Until Forever and Ever


“Gue kan cuma ke Belanda, bukannya pergi ke tempat yang elo nggak bisa datengin atau apa,” Rega berkata ringan,”Lagian kalo liburan juga gue pasti balik”.

“Iya, tapi kan Belanda nggak sedeket Singapura atau Bandung atau Australia,” ujar Maira ngotot.

Rega mendesah pelan,”Sekarang ada Twitter, Skype, kita kan nggak lagi hidup di zaman batu, Maira”.

Alis Maira bertaut,”Tetep aja. Beda dong ama ketemu dan ngobrol langsung. Gimana kalau seandainya gue ada masalah? Gue harus cerita ke siapa? Harus nangis ke siapa?”

“Dasar cengeng,” Rega menjitak kepala sahabatnya.

“Dan gue juga bakal kangen banget ama ini,” Maira mengelus kepalanya pelan, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Semua bakal baik-baik aja kok. Percaya ama gue. Kita bakal baik-baik aja,” Rega tersenyum.

Maira diam sejenak. “Elo nggak sedih ya, Ga?” ia menatap sahabatnya lama, berusaha mengingat setiap detil wajah dan garis tubuhnya,”Kenapa elo bisa setenang itu menghadapi semua ini?” Maira kadang nggak mengerti dengan pola pikir Rega. Sementara ia sendiri sudah stress berat menghadapi begitu banyak perpisahan dengan teman-teman SMA-nya, Rega malah santai saja dengan tanggal keberangkatannya yang sebentar lagi.

Kali ini Rega mengacak-acak rambut Maira, membuatnya semakin berat untuk berpisah. Ia akan merindukan semua ini, ngobrol-ngobrol tanpa arah di Kaftee & Bun; ngerjain PR dan belajar bareng; sampai makan malam di warung pecel lele kompleks sebelah. “Harus ada yang tetap kuat untuk semua ini kan?”

“Apa ya jadinya gue kalau nggak ada lo?” Maira bergumam,”It’s like you’re my only grip.”

“Elo ya elo. Dengan atau tanpa gue,” jawab Rega mantap,”Elo tetap Maira yang gue kenal, yang selalu tahu maunya apa. Dan gue nggak pengen waktu kita ketemu lagi nanti—enam bulan dari sekarang, elo jadi Maira yang kalah ama keadaan”.

Seulas senyum melengkung di bibir Maira. Sekarang atau nanti, Rega akan selalu jadi sahabatnya—orang yang memarahinya saat salah, memujinya saat ia melakukan sesuatu yang baik, menemaninya saat kesepian, menjadi tempat bersandar saat ia terlalu lelah menjalani hidup, dan ‘motor’nya saat ia sedang butuh tambahan energi. Kepergian Rega mungkin akan terasa berat, tapi ia tahu ia bukan satu-satunya yang harus menjalaninya. Rega pun merasakan hal yang sama. Mereka adalah penopang bagi satu sama lain, makanya sekarang giliran ia yang mendukung Rega. Men-support cita-cita sahabatnya itu. “No worries, Ga. No worries”.

Monday, August 6, 2012

What’s make your day?

picturetakenfrom:weheartit.com

Sometimes it is a kindness from a total stranger that makes your day. Sebuah kebaikan sederhana yang tidak berasal dari orang terdekat kita. Seperti petugas parkir yang rela mengalah seribu rupiah saat tidak ada kembalian. Seperti sapaan dari satpam kampus yang selalu ada setiap pagi. Seperti traktiran sepiring nasi uduk dari si penjual saat kita membeli banyak. Sometimes it just takes simple things to make you smile. I call it a day from a stranger. Would you be that stranger to someone today?

Saturday, August 4, 2012

WISH


I believe every person on earth at least has one wish.
Wish that they treasure so much. Wish they eager to fulfill.
Wish they desperate enough to see it happen.
Wish that make them ask to their God—kneel before Him.
I wonder if people who don’t believe in God also pray for their wishes.
They do have wishes—dreams, don’t they?

picturetakenfrom:weheartit.com

Wednesday, August 1, 2012

Passion


picturetakenfrom:weheartit.com
“Apa sih impian lo?” Seseorang menanyakan itu pada saya beberapa waktu lalu. Impian?  Saya jadi sadar betapa pertanyaan seperti itu jarang sekali terlontar dalam pembicaraan sehari-hari—bahkan dari orangtua sekali pun. ‘Mau kuliah apa?’, ‘Ambil jurusan apa?’, itu yang lebih sering terdengar. Dan saya baru menyadari, kuliah dan impian bisa jadi sesuatu yang benar-benar beda.

Tanya saya tentang impian saya dua tahun lalu, saya akan menjawab tidak tahu. Tapi, sekarang ketika—sudah mengambil jurusan kedokteran, dan kembali diperhadapkan pada pertanyaan yang sama, bohong kalau saya menjawab impian saya adalah menjadi dokter. Impian saya jauh dari itu. Impian saya adalah menjadi penulis. Passion saya adalah menulis.

Dulu, waktu masih sekolah, saya sering iri melihat teman-teman saya yang walaupun nilainya jelek di beberapa mata pelajaran, tapi punya pelajaran favorit—entah itu matematika, melukis, atau musik. Rasanya enak banget punya sesuatu yang disukai, punya sesuatu yang bisa menjadi tujuan hidup, punya sesuatu yang bisa jadi cita-cita. Dulu, saya tidak punya itu. Banyak teman saya yang ingin jadi seperti saya—bisa punya nilai bagus di semua mata pelajaran, sementara saya ingin jadi seperti mereka. Nilai bagus bukan segalanya, sama sekali bukan. Karena sesuatu yang mahir kamu lakukan bukan berarti sesuatu yang kamu suka untuk lakukan.
You can be good at something without loving it.

I struggled to decide my major. Saya bisa masuk jurusan apa pun tanpa saya harus menyukainya, tapi saya nggak mau hidup yang seperti itu. Saya mau hidup dengan passion saya. Dan akhirnya, walau baru menemukan itu setelah nyemplung ke kedokteran, saya tetap bersyukur. Karena saya tahu, banyak banget orang yang bahkan hingga dewasa nggak tahu apa passion-nya.

Buat saya, passion adalah sesuatu yang nggak pernah ingin berhenti kamu lakukan sekalipun kamu gagal berulang kali. Passion adalah sesuatu yang membuat kamu bersemangat saat melakukannya, enjoy saat berada di dalamnya. Passion adalah sesuatu yang membuat hidup jadi lebih hidup.  Passion adalah sesuatu yang kamu sukai, nggak perlu jago. Karena suka dan jago itu beda banget. Kamu bisa jago dalam bidang tertentu tanpa harus menyukainya. Dan… buat saya, passion itu adalah menulis.

Kalau kamu belum menemukan apa passion mu, jangan khawatir! Every body has their own, hanya bagaimana cara kita mencarinya. Coba deh hal-hal baru yang belum pernah kamu lakukan, karena kamu nggak akan tahu apa yang kamu suka tanpa mencobanya!