Thursday, April 14, 2016

the chaos.

It was dark and pouring outside. Then the automatic doors sled open. A man came in, dragging a woman with him.

Drip, drip, drip.

“I’m okay,” said the woman.

“No, you’re not okay!” the man yelled, sounded like a bark to me.

Drip, drip, drip.

They stood in front of the Emergency Room receptionist. The man rummaged into his bag and threw an ID card to the table.

He left. Angry.

Drip, drip, drip,

I froze.

Susan Pratiwi. From the photo on the ID, clearly it was the woman.

“What’s wrong, Mam?” I asked.

“Nothing”. She seemed a little bit off—confused. Her hair was messy, she was wearing a dirty navy shirt, with a ripped jeans torn here and there showing so many cuts she had on her leg. The nurse surrounded her, checking her from head to toe.

“I’m okay,” she said.

Drip, drip, drip. Fresh red blood were dripping from her hand, forming a pool of blood on the floor.

“Your palm are bleeding, Mam. Are you sure you’re okay?” A nurse approached her.

“It’s not hurt”. She is standing there, looked pale and fragile. I afraid she would collapse at any time.

“Let me look at your hand,” another nurse tried to talk to her.

“No, I want to wait for my friend.” She shook her head, a little trembled.

Drip, drip, drip.

“Do you want to sit while you’re waiting?”

She shook her head twice. “I’m okay”.

“No, you’re not okay,” another voice came from behind, a man stood there, grabbing the woman’s arm until she flinched.

“Please help her,” his voice was heavy, sounded like a mixture of desperation and anger.

“I don’t need any help,” the woman looked at the man with a blank expression.

“Look at yourself! You are bleeding everywhere!” He shook the woman.

The woman looked at herself—puzzled. “Why am I bleeding? That’s odd, I don’t feel any pain at all”.

“What happened?” A doctor came.

“She cut herself,” The man near broke off as he told the doctor. He looked at the woman with an indescribable expression, like he couldn’t believe himself, like a regret, a disappointment, a frustration, but on top of those, I still saw a love. His gesture to protect her, his worrisome gaze toward her, I almost could tell you how much this man love her.

Then I look at the woman. Completely clueless while the nurse cleaned her wounds. It was a heartbreaking scene to watch. And I wonder what kind of thing that made the woman want to end her life. What kind of thing that made her forgot that she had so much love, that she had a man to support her by her side. That still, the best choice is to stay alive despite of whatever it was she had gone through.

Hey, Mam, could you just try to hang on for a while? To bear it with him a little bit more? Because I hope that at the end you will end up grateful that you didn’t die that night. That one day you can laugh for your stupid decision that night, that one day you’ll realize that you’re deeply loved, and you can tell yourself that it’s such a beautiful life to live in.

picturetakenfrom:pinterest.com

Tuesday, March 29, 2016

Blue Summer

Kimmy memejamkan mata sambil menghirup napas dalam-dalam. Suara ombak yang memecah tepian pantai, angin yang terasa lengket di kulit, aroma laut bercampur garam, dan yang paling ia sukai—hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulitnya. Ia rindu suasana seperti ini, suasana yang nggak akan ia temukan di Glasgow, tempatnya bersekolah. Tempat yang musim panasnya bahkan kadang masih dapat membuatnya mengancingkan cardigannya rapat-rapat.

Kimmy membuka mata. Dihadapannya berdiri sebuah kafe kecil bercat putih. Hampir seluruh sisi kafe itu terbuat dari kaca, membuat interiornya yang bernuansa putih biru terlihat dari luar.

Sempurna. Kimmy tidak tahan untuk tidak menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sudah lama ia menantikan liburan musim panas seperti ini. Hanya ia, laut, segelas es kelapa, dan buku Other Colors-nya Orhan Pamuk yang menanti untuk dihabiskan.

Kimmy melangkah menaiki tangga kayu menuju sebuah sofa kecil yang tampak nyaman. Namun, baru saja ia hendak menghempaskan tubuhnya di sana, sudut matanya menangkap sesuatu yang familiar. Ia menoleh ke kanan, ke sebuah balkon yang menghadap ke laut. Seorang pria berdiri di sana.

Pria itu berdiri menatap laut dengan kedua siku bertumpu pada pagar kayu di depannya, rambutnya yang hitam kecoklatan tampak lembut tertiup angin laut, garis punggungnya yang tegas tercetak jelas dibawah balutan t-shirt putih yang dikenakannya. Kimmy terdiam selama sepersekian detik. Berusaha mencari tahu apa yang membuat dirinya begitu tertarik pada sosok itu.

Tepat saat Kimmy begitu ingin melihat wajahnya, laki-laki itu berbalik. Sepintas memori melintasi otaknya. Kimmy membiarkan kedua bibirnya terbuka sedikit. Kedua mata di hadapannya balas menatapnya, manik matanya yang hitam gelap seakan mampu menusuk jauh ke dalam hatinya. Garis wajah laki-laki itu jauh lebih tegas dan keras dari yang diingatnya, namun Kimmy tidak mungkin melupakan wajah itu. Wajah yang pernah mengisi hari-harinya, membuatnya bermimpi dan berharap, wajah yang pernah membuatnya tersenyum lebar, wajah yang pernah membuatnya merona, wajah yang pernah dinantikannya setiap hari, wajah yang sama yang pernah merobek hatinya, membuatnya hancur, dan tak pernah utuh lagi.

“Bill”.

“Kimberly”.

Untuk beberapa detik yang lama mereka bergeming di tempat masing-masing. Hanya saling menatap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hingga akhirnya Bill lebih dulu mengambil langkah berani.

“Gue selalu yakin kita bakal ketemu lagi,” Bill menyunggingkan senyum jenaka yang tak akan pernah Kimmy lupakan. Senyum yang pernah membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Oh ya? Kenapa?”

“Karena kamu suka laut. Kamu suka pantai”.

Kamu. Kimmy tersenyum tipis, rasanya tak ada yang berubah dari mereka. Cara Bill memanggil dirinya masih terasa begitu personal.

“Dan aku tinggal di tempat yang kamu sukai”.

“Ada banyak pantai dan laut di Indonesia, kenapa kamu bisa sangat yakin?”

Bill tertawa kecil. Tawa yang masih begitu menggelitik telinga Kimmy.

Lagi-lagi Bill menyunggingkan senyum boyish­-nya. Senyum yang jauh lebih hangat dari matahari pesisir. “Karena aku yakin semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang ditakdirkan untuk bersinggungan”.

Kimmy menaikkan kedua alisnya. “Darimana kamu belajar kata-kata itu?”

Bill beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju Kimmy. “Hei, maaf kalau aku merusak liburan musim panasmu, maaf kalau bertemu denganku membuatmu teringat akan sakit hatimu. Tapi, aku senang kita bertemu lagi, dalam keadaan yang jauh lebih baik, jauh lebih tenang. And once again I’d like to say that I’m sorry.

Kimmy tak tahan untuk tidak mengulas sebuah senyum tipis di wajahnya. Sebenarnya, ia juga senang bertemu dengan Bill lagi, dalam keadaan hati yang jauh lebih baik, tanpa emosi, tanpa sakit hati, tanpa rasa marah. “It’s okay”.

So, we’re cool?


Yeah, we’re cool”.


Monday, January 25, 2016

menunggu.

“Ah ini,” Alex menggenggam cincin yang menjadi bandul di lehernya. “Gue nggak pernah sempat ngasih ini ke dia”.

“Kenapa?” Anggia melirik Alex, laki-laki itu menatap senja dengan ekspresi yang tak dapat Anggia artikan, seperti merindu akan seseorang yang teramat sangat, seperti menantikan sesuatu yang tak kunjung datang. “Did she leave?”

Sort of,” Alex menghela napas berat.

“Kemana?” Anggia bertanya ragu. “Did she went somewhere you can’t reach her?”.

Alex menatap Anggia sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke langit. “Not really”.

Did she…” Anggia menggantung kalimatnya sebelum melanjutkan. “Did she left forever?”

Alex tertawa kecil. “Apa maksud lo? Tentu aja nggak. Gue nggak akan di sini kalau gitu”.

“Jadi? Kenapa lo nggak ngasih cincin itu ke dia?” Anggia terdiam lalu menyadari sesuatu. “Kalian putus?”

Alex terbahak. “Gue nggak akan pakai cincin ini kalau gue putus”.

“Jadi kenapa dong?”

Alex tersenyum tipis. “Gue nggak akan pernah lupa malam itu. Satu-satunya malam saat gue nge-book resto fancy khusus buat ngelamar Alya. Setengah mati gue mempersiapkan kata-kata yang bagus buat ngelamar dia, dan tiba-tiba aja di tengah makan malam dia memberi gue satu kabar yang rasanya bikin seluruh dunia gue runtuh seketika. Dia diterima kerja di Houston. Alya pernah bilang kemungkinan dia kecil banget diterima dan dia hampir ngelupain lamaran dia ke Houston, but then the good news came, dan shit, gimana mungkin gue mencegah dia buat pergi. It’s her dream job. Gue nggak mungkin bisa ngelupain bagaimana matanya berbinar-binar saat cerita ke gue soal dia keterima kerja, dan gue juga nggak bisa ngelupain bagaimana gue berusaha menjaga hati gue tetap utuh sementara rencana gue hancur di depan mata gue".

“Lo nggak jadi ngelamar Alya malam itu?”

Alex menggeleng. “Elo nggak tahu seberapa berat gue menahan diri gue untuk nggak berlutut di depan Alya malam itu, ngeluarin cincin yang udah gue siapin di kantong celana gue, dan menanyakan pertanyaan yang—damn, sejak tiga tahun lalu ingin gue tanyakan ‘will you marry me?’, tapi ngeliat Alya yang begitu bahagia malam itu, gue tahu gue harus ngebiarin dia ngejar mimpinya dulu. Gue nggak bisa jadi egois dan membebani dia dengan pilihan yang sulit. So I made the choice for her, I’ll wait”.

Anggia terdiam.

“Beberapa teman yang tahu gue membatalkan lamaran gue bilang gue gila. Mereka bilang gue bodoh karena melepas Alya, mereka bilang gue mungkin aja kehilangan Alya. Dia mungkin banget ketemu laki-laki lain di luar sana yang lebih baik dari gue. Dan ya, mungkin gue emang cowok paling bodoh di dunia.”


Anggia menggeleng. “Nggak juga ah, I think it’s romantic, because anyone can say ‘I love you’, but only a little can say ‘I’ll wait for you’, jadi, ya, elo memilih pilihan yang tepat, Lex, nunggu Alya pulang”.

picturetakenfrom:pinterest.com

Monday, January 18, 2016

Out Now! Memoria

Aku mengeluarkan ponsel. 1 Reminder: Rega’s Birthday. 18 Desember. Tujuh hari sebelum Natal. Pukul 5.30 sore.
Kami selalu merayakan ulang tahun Rega tepat pada jam lahirnya. Biar lebih afdol, Rega selalu beralasan. Aku memejamkan mata, membayangkan Rega berada di hadapanku. Duduk bersamaku, bercerita tentang banyak hal, tertawa saat ia meniup lilin ulang tahunnya.
Aku mengeluarkan lilin yang telah kusiapkan dari dalam tas menancapkannya pada cupcake di hadapanku, kemudian menyalakannya. Gula-gula putih yang bertaburan di atasnya terlihat berkilauan dalam temaram cahaya lilin. Cantik. Mengingatkanku pada pemandangan serupa yang pernah kulihat bersama Rega tahun lalu—kilauan air laut yang ditimpa matahari senja. Kami menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di tepi pantai sore itu. Tidak ada kegiatan praktis apapun. Hanya diam dan menikmati laut sambil ditemani angin sore yang terasa lengket di kulit.
Lilin itu indah ya. Sebuah kalimat yang pernah dilontarkan Rega tergiang begitu saja. Kelihatan rapuh sekaligus kuat. Kayak manusia.
Aku menatap api yang menari-nari ringan pada seutas sumbu putih yang menjadi tumpuannya. Seperti berusaha mempertahankan keberadaannya yang nyaris hilang. Padahal ia bisa menjadi kuat jika mau. Padahal, ia bisa menjadi senjata paling mematikan—menyulut kayu dan membakar habis ruangan ini jika ia mau. Tapi toh lilin ini memilih berpendar malu-malu, membakar habis dirinya sendiri. Seperti sudah bosan untuk hidup.
“Selamat ulang tahun, Rega.” Aku meniup lilin tersebut, berharap Rega juga sedang melakukan hal yang sama di mana pun ia berada.



Secuplik kisah Maira dan Rega, baca selengkapnya di novel terbaru saya ‘Memoria’, sudah dapat dibeli di Gramedia terdekat :).

Saturday, January 2, 2016

selamat tahun baru :)

Entah sial atau apa, tahun ini adalah tahun kedua saya menghabiskan malam tahun baru di rumah sakit. Rasanya ingin mengeluh, iri melihat teman-teman saya yang lain dapat menghabiskan malam tahun baru dengan berlibur di luar negeri, atau menunggu detik-detik pergantian tahun dengan makan malam bersama. Sementara saya, saya harus merelakan dua malam tahun baru saya berlalu begitu saja tanpa seremoni apa pun.

Tahun lalu, saya melalui malam tahun baru di sebuah rumah sakit di Sukabumi, dan harus puas dengan sepotong pizza ditengah-tengah kelelahan menerima pasien. Dan kemarin, saya menghabiskan malam tahun baru saya di sebuah ruang perawatan intensif, ditemani bunyi monitor sebagai penghitung waktu mundur menuju tahun baru. Kesal rasanya, saya ingin protes, tapi toh saya sadar, siapa saya hingga saya berhak untuk marah. Karena di tengah-tengah kekesalan saya, saya menyadari banyak hal. Bahwa di bawah gemerlap nyala kembang api yang menyelimuti ibu kota, ada seorang pria yang sedang meregang nyawa. Bahwa di sisi lain, di saat sebuah keluarga sedang menghabiskan makan malam dengan penuh canda, ada keluarga lain yang sedang menatap sebuah bangku kosong karena ini adalah malam tahun baru pertama yang mereka lewati tanpa orang yang mereka kasihi. Bahwa di saat sebagian dari kita menghitung detik-detik menuju tahun baru, ada seorang ibu yang sedang menghitung napas anaknya, berharap anaknya dapat hidup satu detik lagi, satu menit lagi, satu hari lagi. Bahwa di antara riuhnya bunyi terompet tahun baru, ada sedu sedan sebuah keluarga yang baru saja kehilangan seorang ayah. Bahwa tidak semua dari kita menyambut tahun yang baru dengan sukacita.


Selamat tahun baru, selamat mensyukuri hal dan orang-orang terkasih yang masih kita miliki hingga saat ini.

picturetakenfrom:pinterest.com