Monday, November 7, 2011

Murah, Bukan Murahan


picturetakenfrom: ffashion-splash.tumblr.com

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan sepasang suami istri penjual nasi uduk. Sebut saja namanya Bapak dan Ibu Saroh. Mereka menjual nasi uduk dengan harga Rp 6.000,00 per bungkus. Karena saya ingin memesan 80 bungkus untuk dijual lagi di kampus, saya menawarnya menjadi Rp 5.000,00 per bungkus. Awalnya Sang Ibu tidak setuju, tapi setelah proses negosiasi lewat telepon yang berlangsung cukup lama, akhirnya mereka sepakat menjualnya dengan harga Rp 5.000,00 per bungkus. Saya dan teman saya langsung kegirangan setengah mati, membeli makanan semurah itu dengan porsi yang cukup besar dapat memberikan kami keuntungan ekstra. Kami berencana menjual kembali nasi itu dengan harga Rp 8.000,00 per bungkus.

Sepulang kuliah, saya dan teman saya pergi ke tempat nasi uduk tersebut untuk membicarakan detil dari isi nasi uduk yang kami inginkan. Sampai di sana kami memesan sepiring nasi uduk untuk dicoba. Sepasang suami istri itu menemani kami makan sambil berbincang-bincang. Karena dagangan mereka sudah hampir habis mereka memberikan kami porsi yang lebih. “Tanggung, Non,” kata mereka saat kami menolak. Mereka bahkan tidak membiarkan kami membayar sepiring nasi uduk yang kami makan siang itu, “Nggak apa-apa. Kami ikhlas kok.” Mendengar penuturan mereka saya jadi terenyuh dan langsung saja beberapa hal terlintas di benak saya.

1. Alangkah mulianya hati sepasang suami istri ini. Ditengah keserdehanaan, mereka masih rela untuk berbagi dengan orang yang jauh lebih mampu.
Mereka memberi apa adanya, tapi bukan seadanya.

2.  Normal sekali kalau orang kaya memberikan sumbangan bagi orang miskin. Mahasiswa yang pintar membantu yang kurang bisa, atau yang kuat menopang yang lemah. Ketika saya merasakan kebaikan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Saroh, saya seakan kembali diingatkan akan esensi dari memberi. Kadang kita tidak mau memberi karena merasa level kita lebih rendah dari orang yang ingin kita tolong.
Memberi adalah soal hati, bukan materi.
3.  Dibandingkan dengan Bapak dan Ibu Saroh, saya ini serakah banget. Mereka rela bangun pagi untuk menyiapkan 80 nasi uduk demi keuntungan yang saya yakin tidak sampai seribu rupiah per bungkus, sedangkan saya dan teman saya menjual kembali hasil jerih lelah mereka dengan keuntungan tiga ribu rupiah perbungkus demi kegiatan kampus. Saya salut dengan kegigihan dan ketulusan mereka dalam mencari secuil rezeki.

No comments:

Post a Comment