Thursday, April 7, 2011

Thank me! ;)

Pernahkah kalian merasa belum melakukan apa-apa saat telah memberikan sesuatu? Pernahkah kalian merasa apa yang kalian lakukan terlalu kecil dan tidak berarti? Well, saya pernah, dan mungkin… sedang merasakannya.

Saya suka menulis, tapitidak pernah berani bercita-cita jadi penulis. Saya tidak pernah merasa tulisan saya bagus atau layak dibaca. Biasanya, saya malah merasa aneh saat membaca ulang tulisan saya.
Beberapa bulan yang lalu saya mencoba menulis untuk program #22hari220cerita, sebuah program sosial dari Indonesia Bercerita. Saya tidak pernah mengharapkan apa pun ketika mengirimkan cerita tersebut. Namun, di luar harapan saya, cerita anak dari program tersebut kini malah akan dibukukan! Dan saya mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu kontributornya. Tentu saja saya senang, hobi saya bisa berguna untuk anak-anak Indonesia. Lalu, mulai terlintas dalam pikiran saya… Mungkin saya bisa menjadi penulis?

Tapi, tunggu dulu…
Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Apa tidak berlebihan ya kalau saya merasa segembira ini? Apa saya sudah cukup memberi sesuatu yang berarti? Apa saya sudah selangkah lebih dekat untuk menjadi penulis? Mungkin belum. Tapi yang jelas saya ingin mengapresiasi diri saya atas apa yang telah saya lakukan. Merasa sombong itu salah, tapi saya rasa memberi penghargaan kepada diri sendiri itu baik. Mungkin hari ini kalian melakukan hal yang kecil, tapi berangkat dari hal kecil sesuatu bisa menjadi besar kan?
Appreciate yourself!

Oh iya, terima kasih Indonesia Bercerita buat buku #22haribercerita nya:)


Everything small, doesn't have to be small.
It can be...
BIG

Picture taken from: letstakepictures.tumblr.com

Saturday, April 2, 2011

This is my country


There is too much going on in Indonesia
I
njustice

N
atural disaster

D
iscrimination

O
fficials who love to corrupt.

N
eedy population

E
xtravagant government

S
ocial inequality

I
mproper minister

A
bandoned children and patients



But, thank God we still have:


I
slands from Sabang to Merauke

N
atural resources

D
iversity awareness

O
ne unifier language

N
ational heritage

E
xtremely fertile soil

S
pectacular natural beauty

I
ndonesian youth that still have optimism for this country

A
lot of different cultures

I Want to Believe


I really want to believe that this isn’t a goodbye
That this is just a moment when we have to say ‘see you later’ to each other
That this is just like time when we have to be apart after school
and we’ll meet again in the next morning
Only this time, we don’t know when or where it is…
I want to believe that someday, somewhere, we’ll meet each other
In the way that we even can’t imagine
We will share our stories of life
We will sit together and laugh as we look back into this time
Smile to each other, and for a second we can say that nothing has changed
That thing is exactly the same as today
Yes, we being pulled into different directions
Everyone has to take their own way in this crossroads
I want to believe that whatever directions that we have chosen will take us to the same destination
I want to believe that we can be together forever
Living our bitter sweet life as one family

Friday, March 11, 2011

My Time Machine


Setelah membaca artikel di CG! edisi Maret yang intinya berkata bahwa memori kita adalah sebuah time machine, saya jadi tertarik untuk ‘menggunakannya’. Satu-satunya masa yang ingin saya kunjungi saat ini adalah masa SMA saya.

Kalau dipikir-pikir nggak berasa banget, sudah hampir setahun sejak hari terakhir saya di SMA. Sudah setahun sejak saya dan teman-teman sama-sama ngerasain capeknya ngadepin tryout, pemantapan tiap Sabtu, belum lagi jam pelajaran UAN yang makin mendekati hari H makin menggila (satu pelajaran 3 jam!). Udah setahun juga sejak kami ngadepin ujiannya itu sendiri, masih segar dalam ingatan saya deg-degannya waktu nunggu giliran ujian praktik, usaha keras buat dapet nilai tinggi di UAN dan UAS, belum lagi harus mikirin ujian masuk universitas.

Kalau di flashback lagi, saya jadi bertanya-tanya sendiri, kenapa ya masa-masa terakhir di SMA harus diisi dengan aktivitas yg se-hectic itu? Semua persiapan ujian membuat waktu seakan berlari sampai-sampai nggak sempat untuk dinikmati. Tapi kemudian saya sadar, justru segala kesulitan itulah yg membuat kami makin kompak, makin solid satu sama lain, hingga kebersamaan itu makin terasa. Mungkin kalau nggak ada yg namanya ujian akhir hubungan saya dan teman-teman nggak akan seperti sekarang.

Mikirin masa2 SMA seperti ini juga bikin saya ngeh kalau ternyata banyak sekali rutinitas ngangenin yang nggak akan bisa saya rasain lagi, seperti rutinitas bangun pagi dan dengan mata masih setengah terpejam menyambar seragam terus langsung ke kamar mandi, rutinitas menyalin dan disalin PRnya, rutinitas bagi-bagi permen, pocky, atau good time di sekolah, rutinitas ngasih contekan, rutinitas main tap2, rutinitas ngerjain PR mat yang hampir tiap hari ada, rutinitas ngeles ke tempat pak lucky dan surkit, dan masih banyak lagi hal remeh yang bahkan sering saya anggap menyebalkan. Tidak pernah terlintas dibenak saya waktu ngerjain integral atau persamaan reaksi atau vektor kalau suatu hari nanti saya bakal kangen sama soal-soal itu, sama sekali nggak. Tapi ternyata justru susahnya soal itulah yang membuat masa SMA jadi lebih berwarna.

Beneran deh, kesempatan seperti ini tuh nggak akan bisa dibeli. Mungkin hampir semua teman-teman mengejar nilai ketika di sekolah. Yang sering dapet merah berusaha untuk nggak remed lagi, yang udah dapet sembilan pengen dapet 100, tapi pada akhirnya semua nilai itu bukan yang terpenting. Sekolah memberikan lebih dari sekadar nilai di atas ijazah, sekolah memberikan pelajaran seumur hidup yang selamanya akan terpatri di hati kita nggak peduli kita juara umum atau ranking terakhir. Sekolah memberi kita pengalaman lewat guru, teman, pelajaran itu sendiri, bahkan pak satpam atau tante kantin.

Well, susah untuk bilang bahwa 3 tahun adalah waktu yang lama, tapi nggak bisa dipungkiri juga kalau 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Mungkin 3 tahun adalah waktu yang pas bagi kita untuk belajar dan dibentuk. Mungkin 3 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengenal satu sama lain. Yang jelas, 3 tahun yang kemarin sedikit banyak menjadikan kita yang sekarang.

Celebrating Working Women: International Women's Day 2011

Saturday, January 8, 2011

The Good Samaritan

Pernah mendengar cerita ‘Orang Samaria yang Baik Hati?’ Kira-kira begini ceritanya.
Pada suatu hari ada seseorang yang jatuh ke tangan penyamun, ia dirampok, dipukul, dan ditinggalkan dalam keadaan setengah mati. Lalu lewatlah seorang imam, ia melihat namun tidak menolong orang tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, lewat juga seorang Lewi, suku yang terpilih dari antara keduabelas suku Israel. Ia melihatnya, tapi juga tidak mau menolong orang asing tersebut. Akhirnya, seorang Samaria melintasi jalan tersebut. Ia melihat orang asing itu dan merasa kasihan. Kemudian ia membalut orang tersebut, dan mengantarnya ke sebuah penginapan serta membayar seluruh biayanya.

Saya sering mendengar cerita tersebut ketika masih duduk di Sekolah Minggu. Saya mendengarnya, namun tidak pernah berpikir bahwa di tengah lingkungan yang self-centered seperti sekarang, kita masih dapat menemukan ‘orang Samaria yang baik hati’ tersebut. Rasanya mustahil. Dulu, saat masih kecil, saya adalah tipe orang yang mau susah-susah ketika dimintai tolong oleh teman. Intinya, saya selalu mau memberikan yang terbaik untuk orang lain. Tapi, begitu beranjak remaja, saya mulai bertanya-tanya. Apa yang saya dapat ketika memberi banyak bagi orang lain? Setengah ragu saya melihat sekeliling saya, dan mulai menyadari bahwa banyak diantara mereka yang bermental ‘hanya baik kalau ada maunya’. Banyak hal yang telah saya berikan kepada mereka, namun sedikit yang saya dapat. Akhirnya lambat laun saya mulai berubah, saya jadi mengikuti arus dunia. Bersikap masa bodoh dan nggak mau repot apabila menyangkut orang lain, terutama orang asing. Saya hanya memprioritaskan diri saya dan teman-teman dekat saya.

Tapi, beberapa hari yang lalu seakan jadi
wake up call untuk saya. Saat liburan ke Jepang adik saya sakit perut, dan begitu diperiksa, dokter mendiagnosis ia terserang flu perut. Penyakit ringan yang akan mereda dalam rentang 12 jam. Namun, setelah setengah hari sakitnya tidak kunjung berkurang bahkan disertai demam. Kami mulai mengira ia kena usus buntu, karena perut kanannya yang terasa sakit. Namun, karena sebentar lagi kami akan kembali ke Indonesia, kami memutuskan untuk diperiksa di Indonesia saja. Begitu diatas pesawat yang membawa kami untuk transit di Singapura sebelum ke Jakarta, kami bertemu dengan seorang pramugari. Pramugari tersebut menyarankan adik saya untuk dicek dulu kondisinya di Singapura, karena apabila meneruskan terbang, ia khawatir bahwa usus buntunya bisa pecah di atas pesawat. Singkat cerita, adik saya tidak boleh melanjutkan terbang dan harus segera dioperasi di Singapura. Yang membuat saya tertegun dan berpikir adalah kebaikan pramugari itu kepada keluarga saya. Selama penerbangan ia selalu menanyakan kondisi adik saya. Begitu sampai di Singapura pun ia dengan rela membantu kami mengurus keperluan untuk transfer ke rumah sakit dan memberika nomor teleponnya untuk dihubungi apabila terjadi sesuatu, dan begitu adik saya di operasi, ia pun datang menjenguk. Hal yang terlalu banyak bagi seseorang yang baru dikenalnya. Pertanyaan terbesar saya: Kok masih ada yah, orang yang seperti itu? Dia bahkan bukan siapa-siapa kami-totally a stranger.

Saya kembali merefleksi diri saya, dan merasa malu. Malu akan ceteknya mental saya dalam mempertahankan hati nurani saya untuk tetap terbuka dan peka. Saya malah sering kali nggak mau repot saat melihat orang lain susah. Saya lebih mementingkan apa yang akan saya dapat nantinya… Saya lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita mau menolong orang lain…


Finally, I say this in my heart: God, give me a chance to be a Good Samaritan.