Showing posts with label school and college. Show all posts
Showing posts with label school and college. Show all posts

Monday, June 5, 2017

senandung sumbang di kelas sosiologi

Dulu, waktu saya masih di kelas 10, ketika belum ada pembagian kelas IPA-IPS  dan kami masih harus mempelajari semua mata pelajaran tersebut, ada satu mata pelajaran IPS yang benar-benar tidak saya sukai: Sosiologi.

Saya tidak membenci ilmunya, saya juga tidak membenci guru yang mengajar pelajaran tersebut. Saya membenci pelajaran sosiologi karena pelajaran ini mengharuskan saya menyanyi. Hampir pada setiap pertemuan, guru sosiologi kami akan memberikan pertanyaan, dan bagi yang salah menjawab pertanyaan tersebut, maka ia harus menyanyi di depan kelas pada pertemuan berikutnya. Saya tidak bisa menyanyi. Buat saya, pelajaran sosiologi adalah pelajaran paling menegangkan dan menyebalkan sepanjang kelas 10.

Beruntungnya, saya hampir berhasil melewati sepanjang tahun pertama saya di SMA dengan aman. Hampir. Karena ketika tinggal sedikit lagi menuju kenaikan kelas, satu pertanyaan membuat saya terpaksa harus menyanyi. Satu-satunya pertanyaan yang membuat saya harus memperdengarkan suara sumbang saya di depan kelas.

Menyebalkan? Sangat. But, that’s life. Shit happens. Hal-hal buruk terjadi di luar kendali kita. Saya tidak bisa terus menerus menjadi orang yang duduk di bangku belakang, menonton dan tertawa ketika melihat teman saya menyanyi di depan kelas. Sepandai-pandainya saya menjawab pertanyaan, pada akhirnya saya harus menyanyi juga—gantian menjadi orang yang ditertawai. Memang menyebalkan, tapi jalani saja. Seperti apa pun masalahmu hari ini. Seburuk apa pun itu, bersabar dan hadapilah. Nothing lasts forever anyway ;)




Friday, December 13, 2013

the magic of the rain


I love rain. Maybe because things seem a little bit different when it’s raining. Maybe because we can see things we won’t see on usual day. Seperti melihat dua orang anak berseragam sekolah yang asik mengobrol sambil menerobos hujan—seolah basah kuyup bukanlah hal besar. Seperti melihat seorang bocah penjaja koran yang mengetuk jendela mobil saya dengan tatapn iba. Atau, sesederhana merasakan kebaikan kecil dari orang yang sama sekali tidak terduga.

It was pouring when I wanted to get back from campus today, and I forgot to bring my umbrella. Setelah berputar-putar mencari jalan keluar yang paling dekat dengan tempat parkir, saya berkesimpulan bahwa nggak mungkin banget masuk mobil tanpa kebasahan. Hujannya deras, dan angin yang kencang membuat saya kebasahan bahkan ketika saya berdiri di tempat teduh. Saya menunggu, tapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Tidak betah menunggu terlalu lama tanpa teman, saya berpikir untuk menerobos hujan saja. Tapi lalu saya melirik bawaan saya—dua jilid skripsi yang baru saja jadi dan ditandatangani dosen. Saya lebih rela diri saya yang kehujanan dibanding skripsi saya, namun menerobos hujan berarti harus rela membiarkan dua buku hijau tersebut kebasahan. Saya menimbang sejenak. Lalu ragu. Namun keputusan terakhir saya adalah tetap menerobos hujan.

Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba cleaning service yang sejak tadi sibuk mengepel di sebelah saya bertanya,”Mau kemana, Dek?”

“Mau ke parkiran, Mas,” jawab saya sambil menunjuk mobil saya yang terlihat dari tempat saya berdiri. Tidak terlalu jauh, tapi tetap saja mustahil berjalan ke sana tanpa basah kuyup di hujan selebat itu.

“Oh,” cleaning service yang tidak saya ketahui namanya itu lalu bergegas ke belakang, kemudian meminjamkan saya sebuah payung. “Ini pakai aja, Dek”.

Setengah terkejut dan bersyukur, saya menerima payung tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Hari ini saya—dan skripsi saya, diselamatkan oleh seorang petugas cleaning service yang tidak pernah saya sapa sehari-hari. And in the middle of the rain I smiled, mungkin hujan nggak hanya meluruhkan awan yang menggumpal pekat di langit sana, tapi juga meluruhkan kebaikan yang ada di hati sebagian orang.


picturetakenfrom:pinterest.com

Thursday, September 26, 2013

unloving talk


Girls’ weaknesses?

Satu. Emosi dan segala hal yang melibatkan perasaan.
Dua. Gosip.

I’ll talk about the latter.
Jadi beberapa malam lalu waktu lagi makan malam, salah seorang teman saya mengeluh karena siangnya ia melihat dua orang teman yang menertawakan teman kami yang lain. Bukannya selama ini saya nggak tahu, kejadian ini sering banget terjadi. Sama siapa aja. Oleh siapa aja. But everyone keeps quiet. Pretends like it’s normal. Including me.

“Kadang sampai nggak nyangka deh, masa hal-hal remeh aja sampai diomongin—diketawain. Rasanya nggak enak banget,” begitu teman saya berkata. This is one of the reasons I love hanging out with them. They raise my standards. Kadang saya juga suka kebawa kalau teman-teman yang lain ngegosip. But these girls remind me to keep my standard high. Gossiping is low. There is nothing you can be proud of when you talk about someone behind his/her back.

And a devotional that night said: Gossip is incredibly destructive. It is destructive to churches, families, and businesses. It is destructive to your life. It tears you up. It separates the closest of friends. It may feel good when we’re gossiping, but it’s also unloving.


Let us be a loving person.

Tuesday, June 18, 2013

I am fine. You are fine. We are fine


“Gue pengen potong poni nih, tapi cowok gue bilang rambut gue bagusan kayak sekarang,” kata teman saya pagi itu.

“Iya, rambut lo bagusan nggak pake poni,” saya berkomentar.

“Hah masa sih? Gue malah lebih suka pake poni. Jidat gue nggak kelihatan lebar,” Ia memperlihatkan fotonya saat masih berponi.

“Bagusan rambut lo yang sekarang, ah. Jidat lo nggak lebar.” saya bersikeras.

“Iya ya? Aneh juga ya, penilaian kita tentang diri kita sama penilaian dari orang lain sering kali beda banget ya”.

Saya mengangguk. Setuju banget. Kita—cewek terutama, seringkali jadi kritikus paling kejam untuk diri sendiri. ‘Gue gendut’, ‘Gue pendek’, ‘Pinggang gue gede banget’, ‘Hidung gue kurang mancung’, ‘Kulit gue hitam’, and so on... Padahal di mata orang lain we are doing just fine.

Jadi ingat Real Beauty Sketches-nya Dove yang sempat booming. Yang belum lihat videonya bisa nonton di sini:




Penilaian kita terhadap diri sendiri sering kali 10 kali lebih buruk daripada penilaian orang lain terhadap diri kita. We are better than we think, girls—or maybe boys. Nggak ada yang salah dengan mengoreksi diri, tapi jangan sampai kita menjadi korban atas diri kita sendiri. Easy, love yourself for you are fearfully and wonderfully made.

Sunday, May 26, 2013

Tentang Seseorang


“Kalian orang Jakarta memang selalu seperti ini ya?” begitu teman saya pernah bertanya.

“Begini gimana?” Saya mengernyit, meski kira-kira saya tahu kemana pembicaraan kami akan mengarah.

“Terlalu individualistis,” jawabnya.

Saya terdiam sejenak. Teman saya ini berasal dari luar Jakarta. ‘Anak daerah’, kalau kata anak-anak Jakarta. Sedikit banyak saya setuju dengan pendapatnya.
 I think I care enough. I think I love enough. But I am wrong.

“Di daerah, kami nggak kayak gini. Kalau teman dekat ya dekat banget, udah kayak keluarga,” ia menambahkan.

Kalau dipikir-pikir, saya belajar banyak dari teman saya yang satu ini. Dan satu hal yang paling banyak saya pelajari dari dia adalah tentang kepedulian. Teman saya ini adalah tipe teman yang selalu menanyakan apa saya sudah sampai di rumah selepas saya mengantarnya pulang ke kosan. Teman yang rela membawa barang belanjaan saya saat saya sedang memilih belanjaan lain. Teman yang menanyakan apa saya lelah menyetir dan menawarkan bergantian menyetir. Dan teman saya ini adalah orang pertama yang pernah bilang,’Maaf ya nggak sempat nanyain kabarmu, aku sibuk banget belakangan ini’.

Hal yang terakhir membuat saya banyak berpikir. Sejak kapan menanyakan kabar saya menjadi kewajibannya? Saya nggak pernah menanyakan kabarnya tapi teman saya ini merasa bersalah saat tidak sempat memberikan waktunya untuk saya. Satu hal yang terlintas di benak saya saat itu adalah,’Saya belum menjadi teman yang baik’.

Dari situ saya baru ngeh tentang betapa bedanya pergaulan di kota besar seperti Jakarta dengan daerah. Sejak kenal teman saya yang satu ini saya juga jadi sadar betapa cueknya saya terhadap teman-teman saya—bahkan yang paling dekat sekali pun. Saya rasa gaya hidup yang serba independen dan mandiri di kota semetropolitan Jakarta nggak seharusnya membuat kita jadi lupa. Lupa dengan teman-teman kita, lupa kalau selama ini kita tidak cukup peduli. Saya kira selama ini saya cukup peduli dengan teman-teman saya. Tapi, ternyata peduli itu lebih dari sekadar ngebayarin makan di saat teman kita lagi nggak bawa uang. Menjadi benar-benar peduli itu susah, dan saya masih belajar. Belajar memberi perhatian untuk teman-teman saya, belajar memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri, belajar menjadi teman yang baik untuk mereka.