Showing posts with label #13haringeblogFF. Show all posts
Showing posts with label #13haringeblogFF. Show all posts

Thursday, January 17, 2013

Sambungan Hati Jarak Jauh


“Halo”

“Hai, Sayang”.

“Ibu?! Ibu apa kabar?”

“Baik. Kamu sehat?”

“Sehat, Bu. Ibu kenapa jarang sekali menelepon?”

“Maaf, Nak. Ibu sibuk di sini.”

“Bagaimana di sana, Bu? Pasti suasanannya menyenangkan ya? Nggak sumpek seperti Jakarta”.

“Tentu saja. Ibu senang tinggal di sini. Bagaimana kuliah mu?”

“Lancar, Bu.”

“Syukurlah.”

 Aku kangen masakan Ibu”.

“Ibu juga rindu memasak untuk kamu dan Ayah. Oh ya, bagaimana kabar Ayah?”

“Masih sering pulang malam, Bu. Ayah kelihatan lebih lelah akhir-akhir ini”.

“Ingatkan Ayahmu jangan kerja terlalu ngoyo. Nggak baik untuk kesehatan”.

“Mana mungkin Ayah menurut, Bu? Ayah cuma nurut sama Ibu”.

“Sekarang Ayah juga harus nurut sama kamu, dan kamu harus nurut sama Ayah”.

“Iya, Bu.”

“…”

“Aku rindu Ibu”.

“Ibu juga”.



“Siapa yang menelepon malam-malam begini, Ras?”

“Ibu, Yah”.

“Ibu?”

“Iya. Ayah mau bicara? Ini Ibu jauh-jauh telepon dari Surga”.

“Astaga, Raras. Kamu lupa minum obat lagi ya?”



picturetakenfrom:weheartit.com


Wednesday, January 16, 2013

Cuti Sakit Hati


Mili
“Gue capek. Capek maafin Dio untuk kesalahan yang sama berkali-kali. Capek ngasih Dio kesempatan kedua lagi dan lagi. Kalau cinta rela disakiti berulang kali, apa bukan bodoh namanya?”

Mario
“Hidup gue? Neraka. Selama bokap masih minta gue untuk nerusin usahanya, gue nggak akan benar-benar bahagia. Memang, apa yang salah sih kalau gue mau hidup dari passion gue? Apa bokap lebih milih hubungan kami rusak ketimbang bisnisnya?”

Giska
“Umur 22, dan masih belum punya pacar. Bakal jadi apa ya hidup gue? Alasannya? Gue takut mulai lagi. Gue takut jatuh dan merasa sakit lagi. Tapi, alasan sebenarnya sih… Gue masih belum bisa melupakan dia”.

Jana
“Cewek tuh benar-benar merepotkan! Maunya ini dan itu, tapi nggak pernah mau bilang. Maunya dingertiin, tapi nggak pernah ngungkapin perasaannya. Gue kan bukan ahli cenayang! Dan ketika dia nggak dapat yang dia mau, gue yang jadi sasaran!”

Erga
“Gue masih dalam proses merelakan. Sakit banget ngeliat Alexa akhirnya lebih milih dia ketimbang gue. Tapi bukankah cinta itu melepaskan? Membiarkan cinta lo terbang sebebas mungkin”.

Keina
“Gue… Masalah gue juga nggak lebih ringan dari lo semua. Hati gue juga babak belur kok. Tapi, kita di pantai hari ini. Setelah sekian lama nggak ngumpul karena kuliah masing-masing, rasanya sayang banget kalau langit secerah ini disia-siakan untuk ngedumel. Let’s take a break and have each other! Permasalahan kita nggak lebih besar dari persahabatan kita kok!



picturetakenfrom:pinteret.com

Tuesday, January 15, 2013

Orang Ketiga Pertama


Hana menatap lawan bicaranya lurus-lurus. Jantungnya berdetak cepat saat Reo balas menatapnya dengan sepasang mata teduh kecoklatan
“Hai, apa kabar?” Seulas senyum tipis melengkung di bibir cowok itu. Pertanyaan klise yang sanggup membuat otak Hana kehilangan fungsinya.
“Baik,” jawab Hana singkat, rasa gugup membuatnya kehilangan kata-kata.
“Elo tau? Gue selalu menikmati saat-saat seperti ini”.
“Saat-saat seperti ini?” Hana membeo.
“Ya,” Reo mencondongkan tubuhnya,”Saat kita berdua seperti sekarang”.
“Gue juga,” Hana mengaduk-aduk oreo milkshake-nya.
“Selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersama lo,” Reo menunduk sedikit, mencari mata Hana.
“Gue kira gue membosankan. Banyak yang bilang kutubuku itu membosankan”.
“Tapi nggak bagi gue. Gue suka melihat elo yang tenggelam dalam dunia lo sendiri,” Reo tersenyum.
Hana tidak tahu harus menanggapi apa. Ada jeda yang cukup panjang di antara mereka.
“Ng—“ Reo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,”Ada yang ingin gue tanyakan ke elo, Han”.
“Apa?” Hana baru tahu ada juga yang dapat membuat orang sepercayadiri Reo gugup.
“Elo—“ Reo salah tingkah saat Hana menatapnya,”Elo keberatan kalau kita—, kalau kita lebih sering menghabiskan waktu bersama mulai sekarang?”
“Maksudnya?”
“Maksud gue—“ Reo menarik napas dalam,”Elo mau jadi pa—“
“Stop!” Hana mengangkat kedua tangannya.
“Kenapa sih, Han?” Reo nampak kesal kalimatnya dipotong begitu saja. “Ini kan bagian pentingnya. Kira-kira Karin bakal nerima gue nggak ya kalau gue nembaknya begitu?”
“Ya mana gue tau lah, Yo. Gue kan cuma teman latihan lo, ” Hana melengos. “Yang jelas jangan ucapin kalimat ajaib itu sama gue. Nanti aja kalau udah di depan Karin”.
“Kenapa emangnya? Nanti kalau nggak dicoba dulu terus kedengaran aneh gimana?”
“Elo mau gue jawab ‘iya’? Nanti lo mesti pacaran sama gue loh,” Hana tertawa datar,”Udah sana, siap-siap. Dua jam lagi lo mesti jemput Karin kan?”
Reo mengecek jam tangannya. “Thanks ya, Han. Udah mau nemenin gue, elo emang sahabat paling baik!”
“Dan elo sahabat paling ngerepotin sedunia!”
Reo tertawa,”Maaf deh. Habisnya ini kan yang pertama”.
“Dan ini yang terakhir gue bantuin lo,” Hana memperingati Reo.
Karena berikutnya gue berharap elo jatuh cinta sama gue, Yo.

Monday, January 14, 2013

Pukul 2 Dini Hari


Aku mengamatinya dalam diam.

Memperhatikan jemari jenjangnya menari-nari di atas deretan keyboard. Sesekali ia akan berhenti. Menatap layar laptop sejenak, dan membiarkan kerutan samar menghiasi keningnya.

Aku mengamatinya dalam diam, namun tak sedetik pun aku merasa bosan.

Aku mengagumi setiap lekuk wajahnya. Rahang tegasnya, kedua alis pekat yang menaungi mata teduhnya, dan tulang hidung yang terbentuk sempurna.

Aku mengagumi tangan kokohnya. Dan aku tahu, akan ada waktu-waktu dimana ia membiarkan tangan itu menyentuhku.

Seperti saat ini. Ia mendekatkan dirinya padaku. Menghirup aromaku, dan menempelkan bibir tipisnya pada bibirku.

Ini alasan mengapa aku mengamatinya dalam diam dan tak sedetik pun merasa bosan.

Aku selalu menantikan saat-saat ini. Menikmati setiap momen ketika kulit kami bersinggungan.

Aku mengamatinya dalam diam, dan malam ini, sudah sepuluh kali ia menyentuhku di sela-sela kesibukannya.

Jarinya kembali memelukku, mengalirkan sensasi hangat yang selalu aku rindukan. Ia kembali mendekatkan bibirnya pada milikku.

“Ah…” desahnya, ia menarik kembali wajahnya dengan muram.

Aku menatapnya kecewa.

Ini pukul dua dini hari. Dan kafein sudah kehilangan daya magisnya.




picturetakenfrom:pinterest.com

Sunday, January 13, 2013

Kenalan Yuk!


Dulu, aku pikir mencintai orang yang belum pernah kau temui adalah hal mustahil.

Bagaimana mungkin seseorang menaruh perasaan pada orang yang sama sekali tidak pernah dilihatnya?

Bagaimana mungkin jatuh cinta jika tidak pernah berkenalan?

Tapi, sekarang aku mengerti. Rasanya mencintai seseorang yang belum pernah kau lihat, belum pernah kau dengar suaranya, belum pernah kau sentuh.

Aku memimpikannya setiap malam. Membayangkan seperti apa wajahnya sebelum tidur.

Mencoba merasakan dirinya dalam dekapanku. Menerka-nerka warna suaranya dan hangat kulitnya.

Aku selalu menantikan pertemuan pertama kami.

Dan hari ini adalah harinya. Saat di mana aku akan melihatnya untuk yang pertama kali.

Jantungku berdetak cepat. Napasku naik turun. Tidak sabar rasanya ingin menatap matanya. Memeluk dan merengkuh dirinya seutuhnya.

Aku begitu menantikan hari ini. Saat di mana akhirnya aku mendengar suaranya. Sebuah tangis yang pecah membelah udara.

Dan akhirnya aku dapat berkata: “Selamat datang ke dunia, Sayang. Emilia Nadira.”



picturetakenfrom:pinterest.com