Saturday, April 2, 2011

I Want to Believe


I really want to believe that this isn’t a goodbye
That this is just a moment when we have to say ‘see you later’ to each other
That this is just like time when we have to be apart after school
and we’ll meet again in the next morning
Only this time, we don’t know when or where it is…
I want to believe that someday, somewhere, we’ll meet each other
In the way that we even can’t imagine
We will share our stories of life
We will sit together and laugh as we look back into this time
Smile to each other, and for a second we can say that nothing has changed
That thing is exactly the same as today
Yes, we being pulled into different directions
Everyone has to take their own way in this crossroads
I want to believe that whatever directions that we have chosen will take us to the same destination
I want to believe that we can be together forever
Living our bitter sweet life as one family

Friday, March 11, 2011

My Time Machine


Setelah membaca artikel di CG! edisi Maret yang intinya berkata bahwa memori kita adalah sebuah time machine, saya jadi tertarik untuk ‘menggunakannya’. Satu-satunya masa yang ingin saya kunjungi saat ini adalah masa SMA saya.

Kalau dipikir-pikir nggak berasa banget, sudah hampir setahun sejak hari terakhir saya di SMA. Sudah setahun sejak saya dan teman-teman sama-sama ngerasain capeknya ngadepin tryout, pemantapan tiap Sabtu, belum lagi jam pelajaran UAN yang makin mendekati hari H makin menggila (satu pelajaran 3 jam!). Udah setahun juga sejak kami ngadepin ujiannya itu sendiri, masih segar dalam ingatan saya deg-degannya waktu nunggu giliran ujian praktik, usaha keras buat dapet nilai tinggi di UAN dan UAS, belum lagi harus mikirin ujian masuk universitas.

Kalau di flashback lagi, saya jadi bertanya-tanya sendiri, kenapa ya masa-masa terakhir di SMA harus diisi dengan aktivitas yg se-hectic itu? Semua persiapan ujian membuat waktu seakan berlari sampai-sampai nggak sempat untuk dinikmati. Tapi kemudian saya sadar, justru segala kesulitan itulah yg membuat kami makin kompak, makin solid satu sama lain, hingga kebersamaan itu makin terasa. Mungkin kalau nggak ada yg namanya ujian akhir hubungan saya dan teman-teman nggak akan seperti sekarang.

Mikirin masa2 SMA seperti ini juga bikin saya ngeh kalau ternyata banyak sekali rutinitas ngangenin yang nggak akan bisa saya rasain lagi, seperti rutinitas bangun pagi dan dengan mata masih setengah terpejam menyambar seragam terus langsung ke kamar mandi, rutinitas menyalin dan disalin PRnya, rutinitas bagi-bagi permen, pocky, atau good time di sekolah, rutinitas ngasih contekan, rutinitas main tap2, rutinitas ngerjain PR mat yang hampir tiap hari ada, rutinitas ngeles ke tempat pak lucky dan surkit, dan masih banyak lagi hal remeh yang bahkan sering saya anggap menyebalkan. Tidak pernah terlintas dibenak saya waktu ngerjain integral atau persamaan reaksi atau vektor kalau suatu hari nanti saya bakal kangen sama soal-soal itu, sama sekali nggak. Tapi ternyata justru susahnya soal itulah yang membuat masa SMA jadi lebih berwarna.

Beneran deh, kesempatan seperti ini tuh nggak akan bisa dibeli. Mungkin hampir semua teman-teman mengejar nilai ketika di sekolah. Yang sering dapet merah berusaha untuk nggak remed lagi, yang udah dapet sembilan pengen dapet 100, tapi pada akhirnya semua nilai itu bukan yang terpenting. Sekolah memberikan lebih dari sekadar nilai di atas ijazah, sekolah memberikan pelajaran seumur hidup yang selamanya akan terpatri di hati kita nggak peduli kita juara umum atau ranking terakhir. Sekolah memberi kita pengalaman lewat guru, teman, pelajaran itu sendiri, bahkan pak satpam atau tante kantin.

Well, susah untuk bilang bahwa 3 tahun adalah waktu yang lama, tapi nggak bisa dipungkiri juga kalau 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Mungkin 3 tahun adalah waktu yang pas bagi kita untuk belajar dan dibentuk. Mungkin 3 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengenal satu sama lain. Yang jelas, 3 tahun yang kemarin sedikit banyak menjadikan kita yang sekarang.

Celebrating Working Women: International Women's Day 2011

Saturday, January 8, 2011

The Good Samaritan

Pernah mendengar cerita ‘Orang Samaria yang Baik Hati?’ Kira-kira begini ceritanya.
Pada suatu hari ada seseorang yang jatuh ke tangan penyamun, ia dirampok, dipukul, dan ditinggalkan dalam keadaan setengah mati. Lalu lewatlah seorang imam, ia melihat namun tidak menolong orang tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, lewat juga seorang Lewi, suku yang terpilih dari antara keduabelas suku Israel. Ia melihatnya, tapi juga tidak mau menolong orang asing tersebut. Akhirnya, seorang Samaria melintasi jalan tersebut. Ia melihat orang asing itu dan merasa kasihan. Kemudian ia membalut orang tersebut, dan mengantarnya ke sebuah penginapan serta membayar seluruh biayanya.

Saya sering mendengar cerita tersebut ketika masih duduk di Sekolah Minggu. Saya mendengarnya, namun tidak pernah berpikir bahwa di tengah lingkungan yang self-centered seperti sekarang, kita masih dapat menemukan ‘orang Samaria yang baik hati’ tersebut. Rasanya mustahil. Dulu, saat masih kecil, saya adalah tipe orang yang mau susah-susah ketika dimintai tolong oleh teman. Intinya, saya selalu mau memberikan yang terbaik untuk orang lain. Tapi, begitu beranjak remaja, saya mulai bertanya-tanya. Apa yang saya dapat ketika memberi banyak bagi orang lain? Setengah ragu saya melihat sekeliling saya, dan mulai menyadari bahwa banyak diantara mereka yang bermental ‘hanya baik kalau ada maunya’. Banyak hal yang telah saya berikan kepada mereka, namun sedikit yang saya dapat. Akhirnya lambat laun saya mulai berubah, saya jadi mengikuti arus dunia. Bersikap masa bodoh dan nggak mau repot apabila menyangkut orang lain, terutama orang asing. Saya hanya memprioritaskan diri saya dan teman-teman dekat saya.

Tapi, beberapa hari yang lalu seakan jadi
wake up call untuk saya. Saat liburan ke Jepang adik saya sakit perut, dan begitu diperiksa, dokter mendiagnosis ia terserang flu perut. Penyakit ringan yang akan mereda dalam rentang 12 jam. Namun, setelah setengah hari sakitnya tidak kunjung berkurang bahkan disertai demam. Kami mulai mengira ia kena usus buntu, karena perut kanannya yang terasa sakit. Namun, karena sebentar lagi kami akan kembali ke Indonesia, kami memutuskan untuk diperiksa di Indonesia saja. Begitu diatas pesawat yang membawa kami untuk transit di Singapura sebelum ke Jakarta, kami bertemu dengan seorang pramugari. Pramugari tersebut menyarankan adik saya untuk dicek dulu kondisinya di Singapura, karena apabila meneruskan terbang, ia khawatir bahwa usus buntunya bisa pecah di atas pesawat. Singkat cerita, adik saya tidak boleh melanjutkan terbang dan harus segera dioperasi di Singapura. Yang membuat saya tertegun dan berpikir adalah kebaikan pramugari itu kepada keluarga saya. Selama penerbangan ia selalu menanyakan kondisi adik saya. Begitu sampai di Singapura pun ia dengan rela membantu kami mengurus keperluan untuk transfer ke rumah sakit dan memberika nomor teleponnya untuk dihubungi apabila terjadi sesuatu, dan begitu adik saya di operasi, ia pun datang menjenguk. Hal yang terlalu banyak bagi seseorang yang baru dikenalnya. Pertanyaan terbesar saya: Kok masih ada yah, orang yang seperti itu? Dia bahkan bukan siapa-siapa kami-totally a stranger.

Saya kembali merefleksi diri saya, dan merasa malu. Malu akan ceteknya mental saya dalam mempertahankan hati nurani saya untuk tetap terbuka dan peka. Saya malah sering kali nggak mau repot saat melihat orang lain susah. Saya lebih mementingkan apa yang akan saya dapat nantinya… Saya lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita mau menolong orang lain…


Finally, I say this in my heart: God, give me a chance to be a Good Samaritan.


Monday, May 31, 2010

Go Green!

Hari ini saya mendapat kesempatan untuk memandikan adik perempuan saya yang baru berusia enam tahun. Suatu pengalaman yang jarang sekali saya dapatkan, karena biasanya ia dimandikan oleh pengasuhnya, dan saya bersyukur mendapatkan kesempatan itu hari ini. Mengapa? Begini ceritanya…

Pagi itu, saya menyalakan air dari pancuran, dan adik saya mulai bermain dibawahnya. Ketika tiba saatnya untuk memakai sabun, saya menuangkan sabun ke tangannya tanpa mematikan air, lalu adik saya tiba-tiba berkata,”Tunggu, Ci! Matiin dulu airnya”. Saya menatapnya lalu bertanya,”Loh, memangnya kenapa?”

“Kan sayang airnya…” jawabnya polos sambil mematikan air. Kalimat tersebut menyentil saya, sambil lanjut memandikan adik saya, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira, kalau dibandingkan dengan adik saya yang baru mau naik kelas satu SD ini, saya atau dia yah yang lebih peduli dengan lingkungan? Saya boleh saja tahu lebih banyak hal tentang cara menyelamatkan bumi, membuat bumi jadi lebih baik, tapi penerapannya??

Tahu lebih banyak, bukan berarti berbuat lebih banyak… Dan saya tidak mau jadi orang yang hanya banyak bicara namun tidak berbuat apa-apa. Dimulai dari hal-hal kecil, yang biasa tidak saya perhatikan. Saya ingin mengubah kebiasaan saya yang kelihatannya biasa saja, namun secara perlahan tapi pasti merusak bumi ini…

Sunday, May 9, 2010

Carita...

Senin lalu, saya bersama keempat belas teman SMA saya pergi berlibur ke Carita selama tiga hari dua malam. Setelah perjalanan tiga setengah jam yang melelahkan, kami memutuskan untuk mencari makan siang di sekitar penginapan. Dimulailah hal yang mengesalkan, setelah berpanas-panas ria mencari restoran dengan perut yang lapar, ternyata tidak ada satu restoran pun yang buka! Akhirnya, terpaksa kami makan di sebuah warung kecil milik Pak Kumis, yang untuk hari-hari selanjutnya juga menjadi sumber makanan kami. Sore harinya kami bermain di pantai, menikmati ombak dan pemandangan laut yang indah. Malamnya, sebagian dari kami sibuk menyiapkan makan malam, saya geli sendiri mendengar keributan yang tercipta dari dapur malam itu, dimana orang yang nggak bisa masak ikut-ikutan sehingga yang bisa masak pun jadi ikutan bingung... Esok paginya, hal mengesalkan kedua terjadi... Listrik padam mulai dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore. Terpaksa kami bermain air hingga sore, mulai dari laut hingga ke kolam renang...

Yang mau saya bagikan di sini bukan sekadar kegiatan kami berlima belas selama di Carita. Ketika sampai di rumah saya kembali mengingat-ingat liburan kami, dan mulai menyadari... Mungkin, kehidupan saya di SMA, dapat diibaratkan seperti liburan kami ke Carita, dimana banyak sekali kesulitan-kesulitan (susah cari makan, tidur seranjang berempat, harus antre kamar mandi, listrik padam, sempit-sempitan di mobil, dan masih banyak lagi) Tapi ditengah kesulitan-kesulitan tersebut kami masih bisa tertawa. Mengapa? Karena kami melaluinya bersama-sama. Saya mencoba membayangkan masa-masa SMA saya tanpa teman-teman terdekat saya. Mungkin tanpa mereka masa SMA saya tidak akan menarik. Bisa saja tanpa mereka, saya tidak akan mampu melewati masa SMA, mereka jugalah yang sedikit banyak membentuk saya menjadi saya yang sekarang.

Butuh kepercayaan antara satu sama lain, sama ketika saya mempercayakan diri saya yang tidak bisa berenang kepada teman-teman saya di kolam renang. Saya harus yakin bahwa mereka tidak akan membiarkan saya tenggelam. Saya takut, tapi tetap percaya kepada mereka. Tanpa saya sadari, kehidupan sekolah saya juga begitu, kadang saya harus bergantung pada orang lain, dan percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik untuk membantu saya.

Glad to have you as my friends, guys!