Sunday, December 23, 2012

Sampah Hati


Kalau ingin ke gereja tanpa melewati jalan raya, saya harus melewati tempat penampungan sampah di sebuah pemukiman. Dan belakangan ini, sampah di tempat itu semakin membludak. Gerobak-gerobak sampah dan kantong-kantong sampah besar memenuhi hampir separuh jalan. Akibatnya tentu saja merugikan banyak orang. Selain bau yang nggak sedap, sampah-sampah itu juga bikin macet. Mobil yang berlawanan arah harus bergantian melewati jalan itu, nggak jarang juga terjadi perkelahian-perkelahian kecil akibat pengendara yang tidak mau saling mengalah.

Karena terlalu sering melewatinya, saya jadi berpikir. Mungkin hati kita juga seperti jalan itu ya. Sampah-sampah yang memenuhinya adalah dosa-dosa kita, kepahitan-kepahitan yang kita tumpuk kepada sesama. Akibatnya, bukan hanya merugikan kita, tapi juga orang lain. Dosa dan kepahitan yang terus kita pendam di hati kita lama-lama akan jadi sumbat. Nggak cuma itu, hubungan kita dengan Tuhan, hubungan kita dengan orang lain, bahkan hubungan orang lain dengan orang lainnya yang berkenaan dengan kita juga jadi rusak. Pada akhirnya seluruh relasi kita akan terhambat, berhenti di tempat atau bahkan berakhir, dan kita akan kesulitan membiarkan orang lain menyentuh hati kita termasuk Kristus. Solusinya, tentu saja dengan menyingkirkan ‘sampah hati’ kita, bukan memindahkannnya ke bagian hati yang lain, tapi benar-benar membuangnya, membiarkan sampah itu dibakar oleh kasih. Dengan begitu, kita dapat menjadikan hati kita tempat yang nyaman untuk ditinggali.

1 comment: